IFWADI, S.Pd

Foto saya
Bireuen, Aceh, Indonesia
KETUA MGMP IPS SMP BIREUEN

Minggu, 23 Oktober 2022

Pengertian Sejarah Sebagai Ilmu, Sebagai Kisah, Sebagai Peristiwa dan sebagai Seni

Pengertian Sejarah Sebagai Ilmu, Sebagai Kisah, Sebagai Peristiwa dan sebagai Seni

1. Sejarah Sebagai Ilmu

Sejarah sebagai ilmu merupakan pengetahuan tentang masa lampau yang disusun secara sistematis sesuai kajian metode ilmiah. Sebagai ilmu, sejarah merupakan suatu disiplin dan cabang pengetahuan tentang masa lampau yang kemudian berupaya diwariskan kepada generasi di masa sekarang. Menurut Yulia Siska dalam buku Geografi Sejarah Indonesia (2017), sejarah sebagai ilmu berarti sejarah merupakan salah satu bidang ilmu, yang meneliti serta menyelidiki secara sistematis perkembangan masyarakat dan kemanusiaan di masa lampau. Ini dimaksudkan untuk menilai secara kritis seluruh hasil penelitian dan penyelidikan tersebut, untuk kemudian dijadikan pedoman bagi penilaian di masa sekarang dan masa depan. Karakteristik sejarah sebagai ilmu Sejarah karena memiliki ciri-ciri berikut, kecuali subyektif. Sebab sebagai ilmu, sejarah seharusnya bersifat obyektif. Karena didasarkan pada keadaan yang sebenarnya di masa lampau. Bukannya bersifat subyektif atau berdasarkan pendapat dan pandangan sendiri. Baca juga: Sejarah sebagai Ilmu Dikutip dari buku Historiografi Barat (2014) karangan Wahyu Iryana, berikut ciri-ciri sejarah sebagai ilmu: 

Bersifat empiris 

Maksudnya sejarah sebagai ilmu mengacu pada pengetahuan dan pengalaman manusia, baik dari zaman prasejarah hingga zaman sejarah. Berdasarkan pengalaman manusia di masa lampau, ini dijadikan sebagai fakta yang kemudian tertulis atau tercatat dalam tulisan sejarah. 

Punya obyek kajian 

Sejarah sebagai ilmu harus memiliki obyek, dan obyek sejarah itu sendiri adalah waktu. Obyek ini dianggap penting, sebab waktu merupakan pandangan sejarah yang tak akan bisa dipisahkan dari manusia. Waktu meliputi perubahan dan perkembangan aktivitas manusia dari masa ke masa. Oleh sebab itu, tak mengherankan jika waktu menjadi obyek dan unsur terpenting dalam sejarah. 

Punya metode 

Ciri-ciri sejarah sebagai ilmu adalah mempunyai metode, yakni cara penyusunan pengetahuan dan kebenaran dari berbagai peristiwa. Baca juga: Sejarah sebagai Seni Sebagai ilmu, sejarah memiliki metode. Berarti sejarah harus dilakukan melalui pengamatan dengan didukung berbagai bukti sejarah yang terjadi di masa lalu. 

Mempunyai generalisasi 

Karakteristik sejarah sebagai ilmu adalah memiliki generalisasi. Biasanya generalisasi menjadi kesimpulan umum. Begitu pula, sejarah sebagai ilmu yang di dalamnya memuat kesimpulan umum. Dengan demikian, sejarah sebagai ilmu tidak terlepas dari kegiatan penarikan kesimpulan secara umum, sama seperti ilmu lainnya.

Memiliki teori 

Merupakan kumpulan kaidah pokok suatu ilmu. Sejarah sebagai ilmu berarti sejarah memiliki teori pengetahuan yang didapat dari obyek sejarah, yakni manusia dan waktu. Ciri-ciri sejarah sebagai ilmu ini berarti sejarah memiliki catatan tradisi yang panjang, jauh lebih panjang dibanding ilmu sosial lainnya. Karena itu, dalam tiap tradisi pasti ada teori sejarah.

2. Sejarah sebagai kisah

Sejarah sebagai kisah adalah kejadian-kejadian pada masa lalu yang kemudian dibangun kembali oleh umat manusia. Banyak orang yang mencoba menafsirkannya dan juga membangun ulang ingatan-ingatan akan kejadian masa lalu. Sejarah merupakan gambaran masa lalu sebagai individu, maupun sebagai kelompok makhluk sosial. Kejadian-kejadian itu kemudian disusun secara ilmiah berdasarkan fakta-fakta pada masanya. Fakta-fakta itu ditafsirkan dan dijelaskan secara terperinci, sehingga dapat memberi pengertian kepada kita tentang yang terjadi pada masa lampau.

Peristiwa yang diperoleh dari berbagai sumber disusun untuk kemudian dilakukan penafsiran. Hasil dari penafsiran itu diceritakan kembali kepada generasi-generasi selanjutnya. Banyak dari cerita-cerita peristiwa, diceritakan kembali oleh para sejarawan dengan tafsiran yang berbeda antar mereka. Para sejarawan ini memiliki caranya sendiri dalam menafsirkan sejarah, biasanya disesuaikan dengan konteks zaman.

Banyak orang mengenal sejarah sebagai sebuah cerita. Banyak manusia yang bercerita tentang sejarah, memiliki kepribadian berbeda-beda. Dalam menyusun cerita sejarah sebagai kisah, mereka berpendirian supaya cerita mereka bisa dipercaya dan bersifat obyektif. pada dasarnya setiap manusia yang menceritakan sejarah sebagai kisah, mau tidak mau mereka akan dipengaruhi oleh sifat-sifat mereka sendiri. Secara tidak langsung, setiap cerita yang dibuat, pastinya tidak dapat langsung dikatakan sudah objektif.

3. Sejarah sebagai peristiwa

Sejarah merupakan sebuah fakta yang hadir dari masa lalu, merupakan sebuah kejadian yang nyata dan benar-benar terjadi pada masanya. Sejarah menyajikan penggambaran tentang peristiwa-peristiwa masa lalu, lebih spesifiknya yang dialami oleh manusia. Kemudian peristiwa itu disusun secara ilmiah, di dalamnya terpadat gambaran waktu tertentu, kemudian diberi tafsiran, dan dianalisis secara kritis agar mudah dipahami dan dimengerti.

Peristiwa dalam sejarah itu benar-benar terjadi pada masa lampau, didapat dari berbagai sumber sejarah yang tepat. Secara umum manusia tidak dapat mengingat keseluruhan kejadian yang pernah dialaminya, ia juga tidak selamanya dapat diingat secara lengkap oleh suatu kejadian. Oleh karena itu, tidak heran kalau banyak peristiwa-peristiwa pada masa lampau yang kemudian hilang. Pada umumnya yang hilang itu sebagian besar belum bisa ditemukan kembali.

Untuk merekam peristiwa-peristiwa sejarah, tulisan menjadi alat yang banyak digunakan oleh manusia dalam menceritakan dan menyatakan pikirannya. Melalui tulisan, pikiran-pikiran manusia akan hidup jauh lebih lama, dibandingkan dengan sekadar ucapan verbal. Melalui tulisan pula manusia dapat mengingat dan menambah daya pengetahuannya. Oleh karena itu, banyak dari mereka yang ingin merekam kejadian atau peristiwa yang dialami dengan menulis. Dengan begitu, sejarah sebagai peristiwa bisa dapat teruji kebenarannya, dan meminimalisir kehilangan-kehilangan momen penting peristiwa sejarah.

4. Sejarah Sebagai Seni

Sejarah sebagai seni memiliki maksud sebagai suatu kemampuan menulis yang baik dan juga menarik mengenai suatu kisah atau peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Jadi, sebenarnya istilah ini sangatlah melekat dalam diri seorang yang berprofesi seni sejarawan karena mereka sering kali menceritakan kisah-kisah sejarah.

Dalam menulis kisah sejarah tersebut tentunya seorang sejarawan tidak sembarangan agar tulisan yang ia buat menjadi menarik untuk dibaca. Oleh karena itu, seni dibutuhkan dalam penulisan karya sejarah. Hal ini karena apabila hanya mementingkan data-data, akan  sangat kaku dan pembaca pun akan cepat bosan.

Realitas memperlihatkan, sebagaimana karya-karya kategori sejarah lainnya, seperti sejarah politik, sejarah sosial, sejarah kebudayaan, dan sejarah ekonomi, karya-karya sejarah seni pada umumnya masih menjadikan sumber tertulis sebagai sumber utama penulisan atau bahkan sumber satu-satunya dalam merekonstruksi sejarah seni.

Dengan demikian, karya sejarah seni lebih banyak lahir dalam bentuk konvensional, sebagaimana yang dapat dilihat dewasa ini, yakni karya sejarah yang secara substansial didominasi oleh deskripsi atau narasi yang bersifat tertulis. Padahal, kenyataan memperlihatkan bahwa sumber-sumber yang dapat digunakan untuk merekonstruksi sejarah seni tidak hanya berupa sumber tertulis.

Namun juga, sumber benda, sumber lisan, dan sumber visual, bahkan keberadaan sumber visual semakin hari tampak semakin mendominasi sumber sejarah untuk kepentingan rekonstruksi sejarah, termasuk di dalamnya sejarah seni. Disadari atau tidak, saat ini pun manusia modern tengah memasuki era yang dinamakan era kebudayaan nirkertas atau paperless culture.

Secara umum, sumber visual, memiliki dua pengertian besar. Dalam arti luas, sumber visual mencakup semua sumber sejarah, baik sumber tertulis, sumber lisan, maupun sumber benda, atau sejalan dengan pengertian visual menurut Barnard (1998:11-18), yakni, “everything that can be seen“. Dalam pengertian sempit, sumber visual hanya mencakup sumber-sumber berbentuk gambar, baik bergerak maupun tidak bergerak, seperti foto, lukisan, ukiran, dan film.

Sumber-sumber visual tersebut tersaji bisa dalam bentuk CD-ROMs, DVDs., video tapes, photographic data-bases, internet search engines, maupun digital archives. Untuk selanjutnya, sumber visual yang dimaksud dalam tulisan ini lebih dimaksudkan sebagai sumber visual dalam pengertian sempit, yakni sumber-sumber sejarah berbentuk gambar, baik bergerak maupun tidak bergerak.

Minimnya penggunaan sumber visual serta derasnya realitas kemunculan sumber visual sebagai sumber sejarah secara eskplisit memperlihatkan medan tantangan yang perlu dijawab untuk menjadikan sejarah seni tidak sekadar tetap eksis tetapi juga mampu tampil semakin menarik, enak dilihat dan dibaca, serta mudah dipahami atau dalam bahasa Kuntowijoyo (2008:16) menjadikan pembaca cerita sejarah “tergugah, merasa, dan mengalami”. Dengan demikian, sejarah seni pun diharapkan akan lebih mampu memenuhi tiga fungsi sejarah, sebagaimana dikemukakan McCullagh (2010:301-303) yakni membangun identitas, mengidentifikasi tren-tren, serta memberi pelajaran tentang nilai-nilai.

Berbagai argumentasi tentu dapat dikedepankan tentang faktor penyebab masih minimnya penggunaan sumber visual sebagai sumber sejarah serta belum populernya konstruk sejarah visual dalam rekonstruksi sejarah seni. Namun, satu hal yang sulit terbantahkan bahwa besar kemungkinan kondisi tersebut disebabkan oleh belum adanya pemahaman yang baik tentang keberadaan sumber visual, penggunaan sumber visual sebagai sumber sejarah, serta yang lebih penting, pemahaman tentang sejarah visual, baik yang menyangkut konsep, konstruk maupun metode penelitian.

Ciri – ciri sejarah sebagai seni

Intuisi, yaitu kemampuan dalam mengetahui atau memahami sesuatu secara langsung mengenai sebuah topik yang diteliti.

Emosi, yaitu luapan perasaan yang berkembang dan masuk ke dalam penulisan tersebut.

Gaya bahasa, yaitu cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan.

Imajinasi yaitu saya pikiran untuk mengembangkan kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang.

Berikut ini lima contoh sejarah sebagai seni dan sedikit penjelasannya.

1. Tarian Tradisional

Contoh pertama sejarah sebagai seni adalah tarian tradisional. Jika kita amati secara teliti, nilai yang terkandung dalam tarian tradisional atau tarian adat tidak hanya sebagai hiburan atau kesenian saja, tetapi ada unsur sejarah di dalamnya. Dalam tarian tradisional yang biasa kita lihat, terkandung unsur-unsur emosi, imajinasi, intuisi dan gaya bahasa.

2. Seni Patung

Contoh sejarah sebagai seni yang kedua yakni seni patung. Beberapa peninggalan sejarah yang ada di Indonesia dibuat dengan perwujudan patung. Patung tersebut memiliki keindahan dalam bentuknya, tetapi di dalamnya juga terkandung unsur-unsur sejarah. Oleh karena itu, patung termasuk ke dalam contoh sejarah sebagai seni.

3. Seni Pahat

Seni pahat merupakan salah satu contoh dari sejarah sebagai seni. Seni pahat bisa kita jumpai di beberapa peninggalan sejarah yang berupa candi-candi maupun arca. Seni pahat dibuat dalam bentuk tiga dimensi biasanya berupa relief-relief gambar hewan maupun lainnya. Untuk mempelajari dan menelitinya dibutuhkan imajinasi dan emosi di dalamnya.

4. Seni Arsitektur

Seni arsitektur merupakan contoh sejarah sebagai seni yang keempat. Seni arsitektur terdiri atas candi, keraton, benteng, rumah adat, dan bangunan keagamaan lain. Bangunan tersebut memiliki nilai seni, sehingga kita membutuhkan imajinasi dan emosi untuk mengamati dan meneliti mengenai fungsi dan kegunaan bangunan seni arsitektur tersebut.

5. Pakaian Adat

Pakaian adat merupakan contoh terakhir sejarah sebagai seni dalam artikel ini. Pakaian adat merupakan pakaian yang menjadi simbol suatu daerah tertentu. Pakaian tersebut mengandung unsur seni dan unsur sejarah didalamnya. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki pakaian adat masing-masing, pakaian tersebut merupakan warisan sejarah dari pendahulunya atau nenek moyangnya zaman dahulu.

Dari berbagai sumber

Paya Kareueng Bireuen, 23 Oktober 2022

IFWADI

Mahasiswa Pasca Sarjana PIPS Almuslim Bireuen

Kepala UPTD SMPN 3 Peusangan


 

Rabu, 29 Juni 2022

Manfaat Media Digital dalam Proses Pemilihan Ketua OSIS pada SMP Negeri 3 Peusangan

 BAB I  PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Perkembangan zaman yang semakin canggih pada abad 21 memberi pengaruh secara langsung terhadap tatanan sosial, politik, ekonomi, seni budaya, bahkan dalam dunia pendidikan. Dalam bidang pendidikan, Indonesia saat ini mulai menampakkan kemajuannya, Program Digitalisasi Sekolah merupakan terobosan baru yang memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk mempermudah setiap kegiatan di Sekolah.

       Transformasi digital mempengaruhi berbagai aspek, termasuk di sektor pendidikan.  Sekolah digital menjadi salah satu terobosan yang mulai diadopsi oleh sejumlah sekolah di Indonesia agar tetap relevan dengan perkembangan zaman

       Dalam penerapannya bukan hanya sistem pembelajarannya saja yang terdigitalisasi, tetapi juga sistem manajemen sekolahnya. Walaupun terbilang cukup kompleks, tapi jika sistemnya sudah berjalan maka proses pendidikannya juga akan terlaksana dengan baik.

Prinsip dasar konsep sekolah digital adalah migrasi data dari manual atau tradisional menjadi digital. Seluruh data yang sudah dialihkan menjadi data digital kemudian diintegrasikan secara penuh sehingga seluruh pelaksanaan sistem pendidikan sudah berbasis pada data digital.

       Proses digitalisasi merupakan kegiatan yang tidak mudah dilaksanakan. Poses digitalisasi tidak hanya sekedar memindahkan informasi yang terdapat pada bahan tercetak ke dalam bentuk digital, tetapi juga memiliki serangkaian tahapan atau prosedur dalam pelaksanaan kegiatan digitalisasi (Pendit 2007:241}.

Dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia, selalu mengalami pembaharuan media dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. disadari atau tidak, saat ini hampir setiap aktivitas yang dilakukan manusia menggunakan teknologi untuk lebih mudah, cepat dan efektif. Begitupun di dunia pendidikan, hampir semua kegiatan menggunakan teknologi sebagai media dalam mencapai proses. Bahkan teknologi digital sudah tidak asing lagi pada peserta didik sekarang ini.

       Selain dalam proses pembelajaran, teknologi digital kini telah dimanfaatkan dalam setiap kegiatan di Sekolah, seperti pustaka digital dan pemilihan ketua OSIS berbasis digital. Dalam rangka mensukseskan program pemerintah mengenai digitalisasi Sekolah. Maka di SMP Negeri 3 Peusangan, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh melaksanakan pemilihan ketua OSIS berbasis digital.

       Pemanfaatan media digital dalam pemilihan ketua OSIS pada SMP Negeri 3 Peusangan
dimaksudkan untuk membangkitkan semangat dan minat peserta didik dalam setiap kegiatan di Sekolah. Cara ini juga dapat menarik minat dan perhatian peserta didik,sehingga peserta didik lebih kreatif dan aktif serta tidak membosankan.

       Pemilihan ketua OSIS Berbasis Digital di SMP Negeri 3 Peusangan Kabupaten Bireuen telah dilaksanakan sesuai perencanaan. Peneliti bertujuan untuk menambah pengetahuan yang dibutuhkan oleh berbagai pihak, baik guru maupun peneliti sendiri guna memberi pengetahuan dan wawasan dalam proses digitalisasi Sekolah. Oleh sebab itu, penelitian ini membahas tentang manfaat pemilihan ketua OSIS berbasis digital di SMP Negeri 3 Peusangan, kabupaten Bireuen

B.     Fokus Masalah dan Pernyataan Masalah

1. Fokus Masalah
    Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka fokus penelitian
ini adalah sebagai berikut:

    1.1. Manfaat Pemilihan Ketua OSIS Berbasis Digital di SMP Negeri 3 Peusangan kabupaten

           Bireuen.

    1.2. Respon Peserta didik terhadap Pemilihan Ketua OSIS Berbasis Digital di SMP Negeri 3 

           Peusangan, Kabupaten Bireuen.

    1.3. Hasil yang dicapai atas Pemilihan Ketua OSIS Berbasis Digital di SMP Negeri 3

           Peusangan, Kabupaten Bireuen.

2. Pernyataan Masalah

    Berdasarkan latar belakang masalah dan fokus masalah di atas, penelitian ini dapat dirumuskan

    sebagai berikut :

     2.1. Bermanfaatkah pemilihan ketua OSIS Berbasis Digital di SMP Negeri 3 Peusangan kabupaten

            Bireuen !

     2.2. Bagaimana respon Peseta didik terhadap pemilihan Ketua OSIS Berbasis Digital di SMP Negeri

            3 Peusangan kabupaten Bireuen !

     2.3. Berhasilkah pemilihan ketua OSIS Berbasis Digital di SMP Negeri 3 Peusangan

C.    Tujuan Penilitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mendeskripsikan Manfaat Pemilihan Ketua OSIS Berbasis Digital di SMP Negeri 3

    Peusangan kabupaten Bireuen.

2. Mendeskripsikan respon peserta didik terhadap pemilihan ketua OSIS Berbasis Digital

    di SMP Negeri 3 Peusangan, kabupaten Bireuen.

 

3. Mendeskripsikan hasil yang di capai terhadap pemilihan ketua OSIS Berbasis Digital di SMP Negeri

    Peusangan, kabupaten Bireuen

D.    Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak, baik dari segi

teoretis  maupun praktis.
1. Manfaat teoretis
    Hasil penelitian ini diharapakan dapat memberikan masukan dan alternatif yang dapat
dipilih dalam untuk memanfaatkan Media Digital dalam proses pemilihan ketua OSIS, serta dapat menambah khasanah Media Digital yang akan di gunakan dalam setiap kegiatan di Sekolah 

2. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak, yaitu sebagai berikut :

2.1. Bagi pihak sekolah, hasil penelitian ini diharapakan dapat memberi masukan dalam meningkatkan 

       kualitas setiap kegiatan terkait pemanfaatan media digital. 

2.2. Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan wawasan tentang

       pemanfaatan media digital  dalam proses pemilihan ketua OSISdi Sekolah dan kegiatan lainnya.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Kajian pustaka adalah salah satu bagian penting dari keseluruhan langkah-langkah metode penelitian. Menurut Cooper dalam Creswell (2010) mengemukakan bahwa kajian pustaka memiliki beberapa tujuan yakni; menginformasikan kepada pembaca hasil-hasil penelitian lain yang berkaitan erat dengan penelitian yang dilakukan saat itu, menghubungkan penelitian dengan literatur-literatur yang ada, dan mengisi celah-celah dalam penelitian penelitian sebelumnya (Creswell, 2010). Maka dalam hal ini untuk membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya maka peneliti mengambil beberapa penelitian terdahulu diantaranya yaitu:

       Penelitian lain yang hampir mirip dengan “Manfaat Pemilihan Ketua OSIS Berbasis Digital di SMP Negeri 3 Peusangan, Kabupaten Bireuen” ini sebelumnya pernah dilakukan oleh beberapa peneliti seperti :

Penelitian yang berjudul “Aplikasi pemilihan ketua badan eksekutif Mahasiswa STMIK Pontianak berbasis desktop” sebagai rujukan penelitian dalam Penelitian ini di lakuakn untuk memungkinkan pengguna (user) semakin mudah untuk melakukan pemilihan secara elektronic voting. Electronic voting dengan semua kelebihan dan kekurangannya, dapat menjadikan proses voting menjadi lebih baik. (Murtado, 2011)

       Teknologi memberi banyak manfaat yang beragam, tetapi tidak jarang juga ditemukan kejahatan berbasis teknologi. Sehingga pemerintah mengeluarkan UU No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) Di dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 226/C/Kep/0/1992 disebutkan bahwa organisasi kesiswaan di sekolah adalah OSIS. OSIS adalah Organisasi Siswa Intra Sekolah. Masing-masing kata mempunyai pengertian:

1. Organisasi. Secara umum adalah kelompok kerjasama anatara pribadi yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama. Organisasi dalam hal ini dimaksudkan sebagai satuan atau Kelompok kerjasama para siswa yang dibentuk dalam usaha mencapai tujuan bersama, yaitu mendukung terwujudnya pembinaan kesiswaan.
2. Siswa, adalah peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah.
3. Intra, berarti terletak di dalam dan di antara. Sehingga suatu organisasi siswa yang ada didalam dan di lingkungan sekolah yang bersangkutan.
4. Sekolah adalah satuan pendidikan tempat menyelenggarakan kegiatan pembelajaran, yang dalam hal ini Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah atau Sekolah/Madrasah yang sederajat. OSIS adalah satu-satunya wadah organisasi siswa yang sah di sekolah. Oleh karena itu setiapsekolah wajib membentuk Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), yang tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan OSIS di sekolah lain dan tidak menjadi bagian/alat dari organisasi lain yang ada di luar sekolah.


1. Secara Fungsional
    Dalam rangka pelaksanaan kebijaksanaan pendidikan, khususnya dibidang pembinaan kesiswaan, arti yang terkandung lebih jauh dalam pengertian OSIS adalah sebagai salah satu dari empat jalur pembinaan kesiswaan, disamping ketiga jalur yang lain yaitu : latihan kepemimpinan, ekstrakurikuler, dan wawasan Wiyatamandala.
2. Sebagai Wadah
    Organisasi Siswa Intra Sekolah merupakan satu-satunya wadah kegiatan para siswa di sekolah bersama dengan jalur pembinaan yang lain untuk mendukung tercapainya pembina kesiswaan.

       Teknologi adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal, sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat ataau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indra, dan otak manusia (Miarso, 2007 : 131)

       Digital (Elektronik) adalah proses pemilihan umum yang memungkinkan pemilih untuk mencatatkan pilihannya yang bersifat rahasia secara elektronik yang teramankan (Husni Fahmi, Dwi Handoko, 2010). 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

A.    Lokasi Penelitian

Dalam penelitian kualitatif tidak dikenal istilah populasi dan sampel. Istilah yang digunakan adalah setting atau tempat penelitian (Arikunto, Suharsim 2006 : 13). Tempat penelitiannya adalah SMPN 3 Peusangan Kabupaten Bireuen. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2021.

B.     Informan Penelitian

Pada tahap ini peneliti sebagai pelaksana penelitian sekaligus sebagai human instrument mencari informasi data, yaitu wawancara mendalam pada Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Guru Dan Peserta Didik. Selain itu peneliti juga menganalisis kebutuhan peralatan sarana dan prasarana dan mengobservasi ; ketersediaan sarana dan prasarana disekolah secara langsung dan terus menerus.

C.    Teknik Dan Alat Pengumpulan Data

1.      Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan kelengkapan informasi yang sesuai dengan focus penelitian maka yang dijadikan teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut :

 

1.1. Teknik Wawancara (interview)

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu  dilakukan oleh  dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukanpertanyaan terwawancara (interviewe) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Teknik ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan sarana danprasarana di sekolah.

 

                  1.2. Observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja,sistematis,mengenai 

   fenomena sosial dengan gejala-gejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan. (Joko Subagyo, 1997 : 63). Teknik ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan peralatan sarana dan prasarana dan ketersediaan peralatansarana dan  prasarana.

1.3. Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen
 bisa berbentuk tulisan, gambar, atau lainya. Dokumen yang ditunjukkan dalam hal

 ini adalah segala dokumen yang berhubungan dengan Pemilihan Ketua OSIS

 Berbasis Digital dan administrasi, struktur OSIS SMPN 3 Peusangan, Kabupaten

 Bireuen. sarana dan prasarana, kegiatan Pemilihan Ketua OSIS SMPN 3

 Peusangan  Tahun Pelajaran 2021 – 2022.

 

2.      Alat Pengumpulan Data

2.1. Instrumen Wawancara

2.2. Instrumen Observasi

2.3. Instrumen Dokumen

 

D.    Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

Dalam penelitian kualitatif, instrumen utamanya adalah manusia, karena itu yang diperiksa adalah keabsahan datanya.Untuk menguji kredibilitas data penelitian peneliti menggunakan teknik Triangulasi.Teknik triangulasi adalah menjaring data dengan berbagai metode dan cara dengan menyilangkan informasi yang diperoleh agar data yang didapatkan lebih lengkap dan sesuai dengan yang diharapkan. Setelah mendapatkan data yang jenuh yaituketerangan yang didapatkan dari sumber-sumber data telah sama maka data yang didapatkan lebih kredibel. Sugiyono membedakan empat macam triangulasi diantaranya dengan memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori.Triangulasi dengan sumber artinya membandingkan dan mengecek balik. kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Adapun untuk mencapai kepercayaan itu, maka ditempuh langkah sebagai berikut:


1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara
2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan
secara

    pribadi.

3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang

    dikatakannya sepanjang waktu.

4. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan. Jadi setelah penulis 

    melakukan penelitian dengan menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi

    kemudian data hasil dari penelitian itu digabungkan sehingga saling melengkapi.

 

E.     Teknik Analisa Data

Analisis data dilakukan setelah peneliti melakukan wawancara mendalam terhadap

Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Guru dan Peserta Didik serta observasi langsung

ditingkat sekolah menengah pertama SMPN 3 Peusangan. Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga
mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain ( Sugiono, 2008 : 244).  Model analisis data dalam penelitian ini mengikuti konsep yang diberikan Miles and Huberman. Miles and Hubermen mengungkapkan bahwa aktifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga sampai tuntas. Komponen dalam analisis data :

 

1.      Reduksi Data

Data yang diperoleh dari laporan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting serta mendukung penelitian.

2.      Penyajian Data

Penyajian data penelitian kualitatif bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, dan sejenisnya.

3.      Verifikasi Atau Penyimpulan Data

Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap berikutnya. Tetapi apa bila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel dan dapat dipercaya.

 

 

BAB IV

TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Temuan Penetian

1.      Temuan Umum

2.      Temuan Khusus

 

B.     Pembahasan

BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A.    Kesimpulan

B.     Implikasi

C.    Saran

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Pendidikan

Pengertian Sejarah Sebagai Ilmu, Sebagai Kisah, Sebagai Peristiwa dan sebagai Seni

Pengertian Sejarah Sebagai Ilmu, Sebagai Kisah, Sebagai Peristiwa dan sebagai Seni 1. Sejarah Sebagai Ilmu Sejarah sebagai ilmu merupakan ...

Tampilkan