IFWADI, S.Pd

Foto saya
Bireuen, Aceh, Indonesia
KETUA MGMP IPS SMP BIREUEN

Rabu, 27 Mei 2020

Bale Tambeh, Kompor Untuk Mengangkat Sastra dan Budaya Aceh se-Tinggi Langit!

Oleh: T.A. Sakti

Berikut sekelumit kisah "Bale Tambeh", seunit bangunan tua yang amat kecil, tempat saya dan teman-teman memperdalam ilmu dunia dan akhirat. Dua hari lalu bangunan yang sudah keropos itu hancur-lebur, hilang melesap tak berbekas!. Kisahnya sebagai berikut:

Balai Pengajian Fajrul Islam-3 – DINAS PENDIDIKAN DAYAH KABUPATEN ...

BALE TAMBEH, sebuah balai kecil berukuran 2,5  meter x 1,5 meter. Meski kecil, di balai ini telah berlangsung sejumlah  kegiatan yang ikut memupuk semangat sastra dan budaya Aceh.

Bahan pembuatan balai merupakan “sedekah” para arwah korban Tsunami Aceh, 26 Desember 2004  yang diwakili Cut Baka yang memberikan kepada saya.

Cut Baka (Abubakar Ibrahim) adalah teman akrab saya yang telah menjual sebidang tanah kebun kelapa beliau kepada saya untuk membangun rumah.

Setelah mudik  ke kampung selama dua bulan akibat tsunami, kami sekeluarga balik lagi ke perantauan. Itu berarti pertengahan Maret 2005. 

Setiap hari kami kerja membersihkan halaman dari sisa-sisa bekas tsunami yang dilakukan sedikit demi sedikit. Tanah di seputaran rumah hitam berminyak.

Teman ngobrol di hari-hari “meuseuraya” (gotong-royong)  itu adalah Cut Baka. Beliau penduduk asli Gampong Tanjong Seulamat. Walau ikut menjadi korban tsunami dan mengungsi beberapa hari, tapi tidak kemana-mana setelah itu!.

Ketika saya  menyatakan maksud mendirikan sebuah balai di halaman rumah, Cut Baka langsung bilang:”neucok laju kayee lon peusapat ube sep”(ambil saja kayu yang telah saya kumpulkan secukupnya!).

Memang sudah satu tumpukan besar jumlah kayu yang dikumpulkan. Semua itu berasal dari kayu yang dihayutkan air/lumpur tsunami. 

Kayu itu adalah puing-puing rumah dan gedung yang dihempas tsunami milik orang-orang dari beberapa kampung pinggir laut Aceh (Lautan Hindia). Sang pemilik rumah dan gedung mayoritas jadi korban tsunami. Semoga Allah Swt memberi pahala syahid kepada mereka, Aamiin!!!.

Setelah bahan bangunan balai terasa cukup, saya minta tolong seorang tetangga untuk membangunnya. Beliau adalah keponakan Cut Baka yang sering saya panggil Cut Nan. 

Bahan utama berupa kayu sudah lengkap, hanya paku, tali nilon dan bahan atap daun rumbia yang dibeli Cut Nan di Keude Lamnyong. 

Balai mungil itu menghadap ke jalan kampung agar  saya lebih banyak  dapat ‘bersilaturrahmi’ dengan orang-orang yang lalu-lalang  di jalan depan balai.

Beberapa tahun berselang, Bale Tambeh direhap ulang. Arah depan balai  dialihkan ke halaman rumah, hingga nampak cemerlang, anggun menantang. Dinding balai diganti yang baru, kindang seputar dinding dicat coklat dan landasan tanah disemenkan. Kesemua ini dikerjakan Bang Wan (Ridwan Yusuf).

Semula balai kami tak memiliki papan tulis. Tapi Alhamdulillah, berkat sumbangan Bapak Aidi Kamal papan tulis putih bersih terpasang indah di para balai. 

Begitu pula, balai tempat kami belajar tak mempunyai papan nama. Alhamdulillah, atas sumbangan  Keuchik Gampong Tanjung Selamat, Bapak Husaini Abdullah  papan nama “Bale Tambeh” sudah terpampang adanya.

Selanjutnya, di ujung tahun 2019 Bale Tambeh diperbaiki lagi. Kali ini hanya rehap kecil, berupa soi bubong yang mulai bocor serta membungkusnya  dengan jaring hitam dan menambal triplek di semua tiang. 

Selama ini, setiap tiang balai sudah keropos dan terlihat bopeng-bopeng  sobekan yang memalukan. Tapi, Alhamdulillah, para peserta pengajian Drah Aceh di Bale Tambeh tidak pernah malu (nampaknya!), padahal kegiatan mengaji  huruf Arab Jawoe bahasa Aceh itu disiarkan langsung ke seluruh dunia lewat media youtube. Triplek penutup luka-luki ditiang balai  dicat warna orent oleh Bang Is (Ismail) yang mengerjakannya.

Pondok kecil itu saya beri nama Bale Tambeh. Tambeh, yakni tanbihun dari bahasa Arab bisa bermakna: peringatan, tuntunan atau catatan. Sementara dalam belantara sastra Aceh, kata “tambeh” sudah menjadi nama dari sejenis sastra Aceh yang bermuatan mengenai agama Islam.

Hingga hari ini masih dikenal beberapa kitab agama yang berlabel tambeh. Diantara yang saya ketahui adalah Tambeh Tujoh Blah, Tambeh Tujoh dan Tambeh Limong Kureueng Sireutoh. Angka yang ada merupakan jumlah bab atau masalah dalam kitab tersebut.

Walaupun masih ada, tapi sudah langka dan amat sedikit orang Aceh yang mempelajarinya. Akibat sudah langka itulah yang mendorong saya ingin menyelamatkannya. Usaha ke arah itu antara lain saya lakukan menyalin ulang dalam huruf Latin serta menggelar nama Bale Tambeh bagi rangkang ( dangau di sawah)  saya yang kecil itu.

Blog internet yang saya kelola juga bergelar tambeh, yaitu www.tambeh.wordpress.com. Lalu gambar latar Blog adalah  foto Bale Tambeh yang  di dalamnya  kami  sedang teribat diskusi sastra Aceh, yaitu saya sendiri (T.A. Sakti), Medya Hus, Cek Man, Abrar, dan seorang staf lamuri.online.

Tempo hari, saya pernah mengasuh selama 6 tahun  rubrik sastra Aceh dalam tabloid Warta Unsyiah terbitan seksi Humas Universitas Syiah Kuala. Rubrik itu  saya beri nama tambeh pula. Memang, saya sudah begitu terpaut dengan tambeh, sampai-sampai dengan jambo di depan rumah pun berlakap Bale Tambeh.

Beberapa  kegiatan  yang pernah berlangsung di Bale Tambeh dan sekitarnya:

1) Sejak keberadaannya, setiap kegiatan tulis-menulis yang saya lakukan selalu disertai sebutan Bale Tambeh, baik di awal atau pun di akhirnya. Lalu diikuti dengan tanggal Aceh, Hijrah dan Masehi dan pukul - menit saat hal itu dilaksanakan.

2) Bale Tambeh digunakan sebagai tempat duduk bagi tamu saya atau Ummi (istri saya).  Tamu saya mayoritas mahasiswa saya sendiri, mahasiswa dari kampus lain yang sedang menyusun tugas akhir, skripsi, tesis dan disertasi yang terkait sastra dan budaya Aceh.

3) Tamu Ummi lebih sering merupakan kaum Ibu dari tetangga sekitar rumah kami yang datang pada jam rehat, posnya tentu Bale Tambeh. Kadang-kadang ada pula tamu Ummi yang sengaja datang untuk meminta benih (bijeh) bunga karena Ummi senang menanam dan merawat bunga. Di halaman rumah kami penuh dengan ‘bunga’  warna-warni dan tanaman obat, tanaman sayur dan buah-buahan  dengan kondisi halaman yang bersih dan asri.

4) Ada pula tamu saya kalangan wartawan media cetak dan sekali media elektronik. Mereka meliput kegiatan sehari-hari saya terkait manuskrip dan sastra Aceh. Wartawan media cetak mayoritas asal Banda Aceh yang sehabis tsunami Aceh ( 2004) tumbuh bagaikan jamur di musim hujan. Sekarang, semua media cetak itu; baik suratkabar, majalah dan tabloid sudah almarhum. Pihak media Jakarta, hanya Majalah Tempo (sekali)  dan Harian Kompas yang pernah mewawancarai saya sebanyak  6 (enam) kali. Dua kali diantara liputan Harian Kompas itu sekaligus juga merekam video dengan judul: T.A.Sakti ahli hikayat dan hikayat membakar semangat juang rakyat Aceh. Sampai kini masih dapat dilacak di youtube.

5) Di Bale Tambeh, seniman besar Aceh Medya Hus pernah membuat Video dengan judul dalam youtube: hikayat T.A. Sakti oke mpg  Saat itu saya didampingi penyair Abrar sedang membaca Tambeh Tujoh Blah tentang hidup berjiran atau bertetangga.

6) Suatu kali saya membaca sutu manuskrip yang baru dibawa pulang oleh dr. Nabil Berry dari Pustaka Nasional, Jakarta. Tanpa saya sadari, rupanya pembacaan kitab karya Syekh Muhammad Said bin Abbas Kruengkale itu direkamnya. Rekaman itu sampai kini masih eksis di dunia maya.

7) Sekitar tahun 2011, Bale Tambeh pernah disemarakkan dengan pembacaan nazam dan cae oleh Teungku Ismail alias Cut ‘E dan Medya Hus. Sayangnya, di malam itu turun hujan lebat, hingga acara kurang lancar, tapi tetap bersemangat sukses.

8) Awal tahun 2013, Bale Tambeh pernah saya fungsikan sebagai tempat diskusi dan kajian sastra Aceh. Banyak tokoh sastra dan akademisi telah saya hubungi untuk narasumber dan peserta. Diantara yang saya ingat pernah hadir adalah Ahmad Fauzan, Mr.King  asal Amerika Serikat dan Buk Eli asal Betawi. Tak lama kemudian, saya disibukkan dengan tugas memberi kuliah dan berkuliah karena saya menjadi mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Otomatis, berhentilah kegiatan itu.

9) Selama menyusun tesis pascasarjana, Bale Tambeh menjadi oase sejuk yang menginspirasi. Saya mengkaji Hikayat Malem Dagang, Siti Hajar: Hikayat Teungku di Meukek, Irma Susanti: Hikayat Ranto, sedangkan Khaira: Hikayat Pocut Muhammad. Jadi, walaupun tidak pernah serentak berkumpul kami berempat; tetapi Bale Tambeh menjadi solusi pembebas dari kepenatan menulis tesis.

10) Tahun 1439 H menguat  gagasan untuk mengadakan pengajian kitab huruf Jawi-Jawoe bahasa Aceh. Sebenarnya, ini ide lama yang terus terpendam. Akan tetapi akibat seringnya dapat dorongan dari teman-teman, maka betul-betul muncul ke permukaan. Dalam pembicaraan bersama teman, kami memilih kitab Akhbarul Karim karya Teungku Seumatang sebagai kitab Jawoe rujukan pertama.

Hari Pertama “Meurunoe Jawoe Bahasa Aceh” (belajar huruf Jawi-Arab Melayu bahasa Aceh) di Bale Tambeh  berlangsung pada hari Ahad, 23 Beurapet  1439 atau 23 Zulkaidah 1439 H bersamaan 5 Agustus 2018, pukul 17.00 sore. Pada hari yang sama di Banda Aceh dibuka Pekan Kebudayaan Aceh ke 7 (PKA VII).

Para peserta pengajian yang hadir pada hari pertama sebagai berikut:
1. Saya sendiri ( T.A. Sakti )
2. Muhammad Nur H
3. M. Iqbal
4. T. Jauhari
5. Buchari
6. Salmawati A W
7. Irma Susanti
8. Abdullah Suhemat (suami Irma asal Yordania, sedang kuliah S3 bidang kesehatan di Canada)
9. Tgk Ismail (Cut ‘E), sengaja diundang untuk membaca Nazam Teungku Di Cucum, demi keberkatan; sebagai pembukaan.
10. Siti Hajar

Setelah sukses pembukaan hari pertama, kami pun  ingin memiliki nama grup whatsApp (Wa) yang serasi. Karena itu, saya bersama Siti Hajar dan Bang Buchari alias Bg Bus, mengadakan diskusi kecil pada hari Selasa, 7 Agustus 2018 Pukul 10.11 wib bertempat di Kantin  AAC  Dayan Dawood di Kampus Darussalam.

Sebagai hasil coret-moret kami ditemukan sejumlah  calon nama grup, yaitu 
1) Meurunoe  Arab Jawoe Bahsa Aceh ( Mahajasa Aceh)
2) Belajar Arab Jawi Bahasa Aceh ( Bajaba)
3) Belajar Arab Melayu Bahasa Aceh ( Belamba atau Bamba ) dan
4) Meureunoe Arab Melayu Bahasa Aceh ( Meulasah ).

Hasil rumusan itu  kami bahas kembali pada pertemuan pengajian kedua, hari Sabtu, 11 Agustus 2018. Akhirnya,  usul M. Iqbal Hafidh yang mengusulkan “drahaceh” bagi nama grup, kami terima secara kompak. Drah Aceh, berarti belajar mengenai Aceh yang sering diulang-ulang demi kelancarannya. Sejak pertemuan kedua, jadwal tetap pengajian terus berlangsung pada hari Sabtu.

Pengajian ‘Meurunoe harah Jawoe bahsa Aceh’ berlangsung selama delapan bulan seluruhnya. Dalam sigo Jumeu’at ( dalam seminggu) hanya belajar pada hari Sabtu, mulai  jam 5 sore sampai pukul 18. 30 wib. Selama itu, kami telah membaca serta mengkaji kitab Akhbarul Karim sebanyak tiga kali tamat. Sesuai nama ‘drahaceh’ membaca berulang-ulang itu memang suatu keharusan.

Para peserta yang hadir di setiap pertemuan boleh dikatakan memadainya untuk ukuran balai  yang kecil itu. Di atas balai hanya muat lima orang. Selebihnya duduk dikursi plastik di sekeliling balai. Pengajian di Bale Tambeh juga diikuti mahasiswa senior prodi Pendidikan Sejarah FKIP Unsyiah yang mengambil mata kuliah ‘Studi Lapangan’ yang saya asuh. Mereka saya bagi dua kelompok, karena mengingat kekurangan tempat duduk. Biar pun yang hadir satu kelompok, bangku panjang milik saya dan tetangga perlu dipakai. Media online portalsatu pernah menayangkan kondisi Bale Tambeh saat dihadiri mahasiswa.

Suatu kekaguman saya yang awam mengenai dunia maya adalah upaya Tgk. Iqbal Hafidh dan dr. Nabil Berry yang menjadikan pembelajaran Arab Jawoe di Bale Tambeh tersiar ke mancanegara.

Setiap kali belajar, disiar langsung lewat situs youtube drahaceh. Sorotan gambar dan rekaman suara dilakukan rekan Iqbal Hafidh. Rekaman itu berjumlah sepuluh seri.

Sementara itu dr. Nabil Berry melakukan lobi online dengan “Lembaga bahasa-bahasa di dunia” yang berpusat di Amerika Serikat. Usulan itu diterima lembaga ‘wikitongoues’,yang menjadikan dialog bahasa Aceh di Bale Tambeh sebagai contoh percakapan dalam bahasa Aceh. Alamatnya: wikitongoues.org mengenai bahasa Aceh; klik: T.A.Sakti+IqbalHafidh+M.KalamDaud_20190122_aceh: Wikitongoues.org

Demikianlah, pengajian di Bale Tambeh berjalan lancar dan aman sampai ditutup buat ‘sementara’ sepuluh hari menjelang bulan Ramadhan 1440.

Waktu terus berjalan, melintasi dari bulan ke bulan, namun pengajian di Bale Tambeh tak jelas kapan dibuka kembali. Keadaan ini terjadi karena berbagai faktor, terutama sebagian teman-teman penggagas, penyokong dan pendorong sudah tidak dapat hadir secara rutin. Apalagi, saya sendiri sudah pensiun, sehingga tak ada lagi mahasiswa yang dapat saya ajak meramaikannya.  Akibatnya, saya sebagai pengasas Bale Tambeh menjadi risau hati melanjutkan pengajian.

Akan tetapi beberapa bulan sebelum bulan Ramadhan 1441 H, semangat saya berkobar kembali nyaris tak dapat dibendung. Niat melanjutkan pengajian harah Jawoe bahasa Aceh bergema kembali.

Menyambut semangat yang semakin kuat itu, maka lewat Wa saya umumkan perihal pembukaan kembali pengajian di Bale Tambeh. Pemberitahuan itu saya umumkan setiap hari sampai enam kali. 
Akibat pengumuman itu,  sebanyak 20 orang peserta telah mendaftarkan diri secara online.

Isi pengumuman hari ke tujuh amat bertolak-belakang, berupa penundaan pembukaan pengajian sampai waktu yang tak dapat ditentukan, karena berkembangnya penyakit kumeun ta’eun karu na. Namun niat membuka kembali masih tetap membara, jika Allah Swt mengizinkan setelah penyakit wabah itu hilang, yakni setelah Lebaran puasa 1441 H nanti.

Hari-hari bulan puasa terus bergulir tanpa henti. Setiap hari biasanya saya dua kali datang ke Bale Tambeh, yaitu antara Pukul 11.00 wib dan pukul 17.00 wib. Saya ke situ sekedar ‘peulale puasa’ sekaligus melakukan ‘diam di rumah aja!’

Langkah raseuki peuteumuen mawot!.  Demikian bunyi  hadih maja orang Aceh yang mengingatkan, bahwa sesuatu hal mengenai nasib kita telah ditentukan Allah Swt.

Begitulah, pada Kamis, 28 Ramadhan 1441 H bersamaan 21 Mei 2020, Bale Tambeh ditimpa musibah sekitar jam 10 pagi. Akibat tak sanggup menanggung beban yang amat berat, kayu penyangga lantai patah  dan aleue-lantai tempat duduk terbongkar. 

Musibah itu lebih disebabkan kayu yang sudah keropos dan dimakan kamue, anai-anai. Karena tak dapat dipakai lagi, maka sore Jum’at oleh Bang Is membongkarnya. Sejak pagi Jum’at, 29 Ramadhan, di bekas bangunan Bale Tambeh sudah rapi dan bersih dari puing-puing kayu bekas Bale Tambeh.

Maka tamatlah angan-angan kami anggota grup “drahaceh’ untuk mengangkat sastra dan budaya Aceh se-tinggi langit. Sebab kompornya sudah ‘meledak’!!!.

Munginkah  api semangat yang dulu membara itu bisa bangkit kembali!!!???. Wallahu ‘aklam!.

• Bekas Bale Tambeh, Sabtu, 30 Puwasa 1441 atau 30 Ramadhan 1441 H
bertepatan 23 Mei 2020 M, pukul 22.20 wib.

Penulis kisah: T.A. Sakti

Minggu, 24 Mei 2020

Kota Tapak Tuan yang mengandung banyak cerita

Kota Tapak Tuan merupakan ibu kota kabupaten Aceh selatan provinsi Aceh. Kota Tapak Tuan menyimpan cerita menarik tentang cerita 'naga' dan wisata bahari. Tapak Tuan Kota pesisir selatan pantai Aceh yang dikenal dengan legenda "Putri Naga" dan "Tuan Tapa" yang sudah menjadi sejarah lisan masyarakat setempat.

IMG_20171026_154723.jpg


Kisah legenda naga jantan dan betina yang mendiami teluk (Tapak Tuan) diusir dari negeri Tiongkok karena tidak punya anak. Pasangan naga menemukan bayi terapung di laut. Mereka pelihara dengan kasih sayang beranjak remaja bayi menjadi gadis cantik yang sangat disayangi oleh pasangan naga tersebut.

IMG_20171026_154647.jpg

Gadis hanyut yang sudah 17 tahun rupanya berasal dari kerajaan yang ada di India. Sang raja dari India mencari bayi yang hanyut, namun bayi itu sudah gadis dipelihara oleh pasangan Naga. Raja dari India meminta anaknya kembali, tapi Pasangan naga menolak, sehingga terjadi perkelahian perebutan anak dan mengusik seorang petapa (Tuan Tapa) yang bertubuh besar yang berdiam di gua kalam, yang dikenal dengan "Tuan tapa".Gadis hanyut yang sudah 17 tahun rupanya berasal dari kerajaan yang ada di India. Sang raja dari India mencari bayi yang hanyut, namun bayi itu sudah gadis dipelihara oleh pasangan Naga. Raja dari India meminta anaknya kembali, tapi Pasangan naga menolak, sehingga terjadi perkelahian perebutan anak dan mengusik seorang petapa (Tuan Tapa) 

"Tuan tapa" melerai perkelahian antara naga dengan raja dari India. namun Naga jantan membuat perlawana dengan "Tuan Tapa" sehingga naga jantan mati di tangan "Tuan tapa". Setelah naga jantan mati ditangan "Tuan Tapa" kemudian naga betina mengamuk dengan membelah sebuah pulau menjadi banyak (Pulau Banyak) dan kemudian lari pulang ke Tiongkok.

Putri yang di perebutkan kemudian mendapat julukan "Putri Naga" dan keluarga Raja dari India tidak kembali lagi ke India, tetapi memilih menetap di pesisir pantai Selatan. Begitulah Awal mula Sejarah masyarakat Tapak Tuan dan sekitarnya.

Bireuen, 24 Mai 2020

IFWADI, S.Pd

Kamis, 21 Mei 2020

Penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) Gampong Cot Girek Peusangan

Menjelang Hari Raya Idul fitri 1441 Hijriah, Sebanyak 98 warga Masyarakat Gampong Cot Girek, Peusangan, menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari Anggaran Dana Desa (DD), di Meunasah Gampong Cot Girek, Peusangan Kamis, (21 Mai 2020)


Pada kegiatan tersebut, Keuchik Gampong Cot Girek Peusangan, Salihin Abdullah, dalam sambutannya meminta kepada masyarakat apa bila ada yang ingin di tanyakan, agar bisa langsung menanyakan kepada kepala Dusun (Kadus) masing-masing. Kepala Dusun (Peutua Duson) Sakti Jaya Rasyidi Umar, Kepala Dusun (Peutua Duson) Paya Kareueng, Anwar Kasyah, Kepala Dusun (Peutua Dusun) Israfi Amiruddin Bollah dan Kepala Dusun (Peutua Duson Sakti Jaya Irwandi Zainuddin. Jangan sampai ada warga ingin tahu sesuatu  informasi, tapi menanyakan kepada Gampong lain. Bila ada informasi yang ingin diketahui lebih jelas, bisa ditanyakannya  kepada yang berwenang, agar bisa di jelaskan susuai dengan yang diharapkan," jelas Geuchik Salihin Abdullah.



Proses penyaluran yang berlangsung pada hari ini, merupakan hasil musyawarah dengan perangkat desa, untuk menjaring masyarakat satu persatu sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) tersebut. Masyarakat yang mendapatkan kartu Program Keluarga Harapan (PKH) atau beberapa kartu lainnya mengenai sosial, mereka tidak mendapatkan Bantuan Tunai Langsung (BLT) dari Dana Desa (DD).

Harapan kepada warga masyarakat yang mendapakan dana Bantuan Tunai Langsung (BLT), agar dimanfaatkan untuk kebutuhan yang bermanfaat, apalagi menjelang hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah.

Pada kesempatan yang sama Sekcam Kecamatan Peusangan, Ramzi, menyampaikan, Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang dibagikan pada hari ini (21 Mai 2020) merupakan perintah dari pada presiden, dalam rangka menghadapi wabah Corona atau COVID 19. Orang yang menerima tersebut mereka terlebih dahulu, harus ada dalam data Terpadu Kesejahteraan Sosial (TKS).

Bantuan Langsung Tunai (BLT) diutamakan kepada masyarakat fakir atau miskin serta bagi warga yang sudah sakit menahun ditempat tidurnya. Bantuan Dana tersebut  tidak boleh di berikan kepada Keuchik, PNS, TNI/POLRI, karena mereka dalam menghadapi kondisi seperti ini untuk lima bulan kedepan masih bisa bertahan.  "Bagi yang sudah menerima UPKH, BNPT tiap bulan, melalui e warung serta Bantuan Sosial Tunai BST dan Kartu Prakerja juga tidak diperbolehkan," tegas Sekcam Peusangan.


Pada Kesempatan terakhir 'Tgk Imum Gampong Cot Girek Peusangan Tgk Azwani Ali, S.PdI', untuk memberkati Penyaluran Bantuan Tunai Langsung (BLT) Dana Desa (DD) membacakan doa memanjatkan puji dan syukur kehadiratNYA atas limpahan rahmat dan karunia yang Allah berikan kepada Kita. Besar atau kecil rezeki yang sudah Allah berikan kepada kita jangan lupa bersyukur kepadaNYA.


Selasa, 19 Mei 2020

Jamei ‘Oh Mate

Tambeh: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un!. Hari Jum’at kemarin, 22 Ramadhan 1441 H  jam 11.00 telah berpulang kerahmatullah di RSZA  seorang seniman besar Aceh.
Beliau, Syekh Sofyan Lhoong atau Syekh Yan.

Berkat adanya  Aceh TV dan atas ajakan Cek Medya Hus, beliau beserta  beberapa  seniman Aceh lain telah berjasa membangkitkan kembali  sejumlah  seni Aceh yang nyaris punah, seperti Meuratoh,Rapa-i, Beeula, Seurune Kalee,  Seumapa, Like Aceh,  dan Meupanton.  Semoga beliau berada dalam Rahmat Allah Swt, Amiin!.

Syair di bawah ini terkait hubungan kami. Walaupun  pernah bertemu berkali-kali, seperti di Pameran Seni Taman Sari, Banda Aceh, di Rumah Khanduri dan pesta perkawinan serta menjenguk beliau sakit di RS Meuraksa;  tapi saya belum pernah ke rumah beliau di Lhoong, Aceh Besar. Mau takziah sekarang, sedang musim  kumeun ta’eun, sedih!.

              
Jamei ‘Oh Mate
Leupah that ramphak bak ureueng mate
Jamei dum ile beungoh ngon sinja
Lam tujoh  uroe riyoh bukonle
Cit hana pre-pre jamei dum teuka

Jeuoh deungon toe kuta deungon gle
Ngon seunang hate kunjong syeedara
Jak saweue rakan-wareh ban mate
Peuet ploh thon akhe meureumpok hana

Di ulontuwan dis’ah lam hate
Bit ureueng mate leupah mulia
Tanda bukeuti jan ureueng mate
Jamei dum ile meubura-bura

Ngon bungong jaroe pisang meutangke
Ruti meusile ladom ba saka
Tan nyang soh jaroe saweue si mate
Nyang na hi Toke geuba beulanja

Sayang syeedara tan geumakeuenle
Gobnyan ka mate geutinggai donya
Tan jeuet meureumpok ngon ureueng mate
Moe beukah hate meuteumeung hana

Adak geusaweue watee goh mate
Teuntee boh hate jeuet duek meucakra
Jeuet poh beurakah jeuet tameulike
“Pakat u Tangse jak pula lada!!!”

Jinoe keupeue lom, lhom beukah hate
Gobnyan ka mate tinggai meung nama
Makanan tame tan geupajohle
Ka gob peura-e keu ureueng lingka

Watee peuetploh thon panyang bukonle
Meusiblet hate teuingat hana
Dok didalam buet, juruet boh pade
Nyang toke-toke gabhuek keumira

Guru ngon Teungku laloe ngon tahle
Keu Cutma Bate soe ingat hana
Baro teukeujot ‘oh gobnyan mate
Teulah lam hate hanale guna

Sayang meulang-lang di Cutma Bate
Meuthon-thon sabe geupreh syeedara
Geupreh jisaweue le Sinyak Kade
Katreb u Tangse dijak seumuga

Nyan aneuk kumuen aneuk Lem Tahe
Yoh watee keuce sabe geujaga
Kayem geutingkue, geuayon ca-e
‘Oh duek di Tangse dijih ka lupa!!!
 
Alet ie mata weueh dalam hate
Hana gunale “ie mata buya!”
Aneuk cut-rayek peutron di Tangse
Meureumpok tanle dijih ngon Maha

Wahe kawom lon rakan boh hate
Kisah lam ca-e le ureueng rasa
Laloe hareukat peusapat rupe
Teuingat tanle akan syeedara

Baro teukeujot trok  “surat mate”
Teuka lajule teulah lam dada
Silaturrahmi meuthon-thon tanle
Dawok dok sabe peusaho atra

Dum ureueng tuha di gampong di gle
Sayang bukonle soe saweue hana
Aneuk ngon cuco dalam dok sabe
Peue lom tapike keu ureueng lingka

Saweue-seumaweue jinoe hanale
Donya rab akhe nafsi-nafsiya
Bak duek teujunun sidroe Nek Bate
Kadang ngon Cupe geupeugah haba

Jan-jan ngon Mie-ong gobnyan meuca-e
Dumnan meuseuke ngon peugah haba
Nyang muda-teuga laloe meurabe
Soe ingat tanle keu ureueng tuha

Ajai pih sampoe umu ka sampe
Yohnyan Nek Bate woe ’alam baqa
“Innalillahi…” umum lajule
Bahwa Nek Bate geutinggai donya!

#Catatan : 1.  Nan ureueng ngon nan teumpat lam kisah nyoe kon kisah nyata, hanya mangat meusantok/meupakhok ca-e mantong!.

2. Cae ini, semula terilhami atas meninggalnya Ibunda saya dan 80 hari kemudian Abu mertua pada Februari  2009.


                                       T.A. Sakti

Paya Kareueng, Bireuen, 19 Mai 2020
Ifwadi Taib, S.Pd

Senin, 18 Mei 2020

Kisah Perantauan Masyarakat Pidie ke Pantai barat-selatan Aceh Tempo Dulu

HIKAYAT RANTO
Kisah Perantauan Masyarakat Pidie ke Pantai Barat - Selatan Aceh Tempo Dulu.
Karya :  Leube Isa alias Leube Bambi, Pidie,(Aceh)

Aslinya dalam huruf Arab Jawi/Jawoe
#Alih aksara dari huruf Latin ejaan Belanda ke Latin EYD
Oleh : T.A. Sakti

Pengantar Singkat:
Perantauan orang Pidie dan Aceh Besar ke barat-selatan Aceh tempo dulu terekam dalam Hikayat Ranto dan “situs” Kota Blang Pidie di sana. Kemudian, setelah barat-selatan Aceh padat penduduk, perantauan orang Pidie dan Aceh Utara beralih ke Aceh Timur dengan istilah populer “Jak u Timu”(merantau ke timur). Sejauh yang saya pahami belum dijumpai Hikayat Aceh mengenai kisah ini. Tapi terekam dalam disertasi Dr. Muhammad Gade Ismail: “Seuneubok Lada, Uleebalang dan Kompeni”.

(Hikayat Ranto, sengaja saya posting  Senin, 25 Ramadhan 1441  H/ 18 Mei  2020  hari ini, dalam rangka memperingati  36  tahun musibah lalulintas yang saya alami pada  Sabtu, 25 Ramadhan 1405 H/15 Juni 1985 M  di sekitar Kalasan, lebih kurang 8 km sebelah timur kota Yogyakarta.
Saat itu, saya serta  konvoi mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta  dalam perjalanan pulang terakhir, setelah menyelesaikan tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN-UGM) di kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Saya, T.Abdullah Sulaiman (T.A Sakti) serta beberapa teman ditempatkan di desa Guli, kecamatan Nogosari. Begitulah,…sekejab setelah melintasi Candi Prambanan pada siang yang panas dan mulai musim “mudik Lebaran”, serta  dalam suana ‘puasa tua’ sekitar pukul 13.11 WIB, sepeda motor HONDA saya yang dikemudikan Joko Supriyanto ditabrak mobil colt barang/tivi.  Alhamdulillah, hingga saat ini saya beserta keluarga dalam keadaan sehat-sejahtera. Semoga Rahmat Alllah senantiasa menyertai saya sekeluarga dan para pembaca Wa yang budiman semuanya!. Aamiinn!!!.

HIKAYAT RANTO, mengisahkan kehidupan anak manusia lebih seabad lalu yang umumnya dari wilayah Pidie, yang mengadu untung dengan merantau ke belahan Barat-Selatan wilayah Aceh sekarang.  Hikayat ini menjelaskan, bahwa upaya memperbaiki nasib di rantau tidaklah semulus yang diharapkan. Bahkan lebih banyak  gagal dibanding yang berjaya.Namun, para perantau dari Pidie terus mengalir bagaikan air.

Hikayat Ranto menjelaskan, bahwa pemicu merantau itu disebabkan  rasa malu hidup miskin, yang selalu dilecehkan isteri dan sindiran mertua.

Pemuatan Hikayat Ranto pada hari ini 18 Mai 2020  terasa tepat, mengingat musibah yang saya alami juga terjadi  ketika saya sedang “menjaring nasib” di perantauan Yogyakarta. T.A. Sakti)

Bismilahirrahmanirrahim
Nyoekeu Isim lon boeh sinoe
Subhanallah walhamdulillah,Tuhan nyang sah qadim sidroe
Meuha suci deungon puji,Tuhanku Rabbi wajeb sidroe
Suci ngon pujoe sabet bak Tuhan, Laen nibak nyan geuceula dumnoe

Tuhan geutanyoe amat tinggi, Laen ’abeudi hamba barangsoe
Baranggari dum meukhluek, Nyang sabe duek lam donya nyoe
Kaya gasien hamba Tuhan, Seukalian alam dum barangsoe
Meuseuki ulat nyang lam batee, Bahle meusilee leumah cit droe

Meuhat raseuki dum bak Allah, Leungo lon peugah wahe adoe
Seupeurti ban fireuman Tuhan, Dalam Qur’an takalon keudroe
Wama mindabbatin fil ardhi, Illa ’alallahi rizquha
Makna meuphom dum bak sahbat, sit bingong that ulon sidroe

Sabab rindu deungon deundam, Nyoe lon karang peu-ubat ate droe
Digob geukarang deungon awe, Ladom geurante deungon taloe
Dilon lon karang dalam  ate, Lon rawe-rawe lam dada droe
Loncok daweuet deungon keureutah, Teuma lon kisah keu pi-e droe

Supaya jeuet keu ibarat, Jeuet seulamat dua nanggroe
Geutanyoe at udeb dalam donya, Dua peukara hantom sunyoe
Saboh bagoe tuntut ileumee, Mita guree nyang peuhareutoe
Dua bagoe mita hareukat, Tapileh pat laba rugoe

Meung bek Teungku jalan salah, Banci Allah keu geutanyoe
Lon peuingat dum syeedara, Tuha muda aduen adoe
Leumah akai ubak hate, Ji tamongle lam dada droe
Taleungo nyoe lon peuhaba, Agam dara aduen adoe

Bekkeu dawok ta meututo, Ingat hai po dum geutanyoe
Meuseuki uroe meuseuki malam, Ingat keu untong akhe dudoe
Aduen adoe tuha muda, agam dara dum sinaroe
Dara agam kaya gasien, seumayang teelan dum bek sunyoe

‘Ohtroih umuteu siploh thon, wajeb ta seuon nyang limong peue
Cahdat seumayangpuasa jakeuet, haji teuma jeuet geunap limong peue
Jakalee han ek tajak u Makah, taseumah nang eumbah geunab uroe
Tameuseulaweuet tabri seudeukah, nyanpi roe sah ampon deesya droe

Apui Nuraka jimeusumpah, deumi Allah han jipeutoe
Suloih nyang akhe beutabeudoih, di awai suboh lam jaga droe
Pinto langet tujoh lapeh, yohnyan habeh dum teubuka keudroe
Tameulakee ubak Tuhan, neutulak han baranggapeue

Di lon teelan kupeuingat, lon nyoe sisat malam uroe
Tameulakee bak sunggoh ate, ie mata ile sajan meutaloe
Taleueng  jaroe tangah u langet, Araih taniet rab geutanyoe
Kaureuna Araih rahmat sinan, peureuman Tuhan taleungo jeunoe

Jadonllahi foeka oidihem, ingat dalem makna jeunoe
Poteu peutroih peue nyang hajat,nyang meukeusud  wahe adoe
Sipeureuti ban peuruman Allah, bek  taubah harab geutanyoe
Ud’uni astajib lakom, Tuhan neukheun keu geutanyoe

Meung jimeuhon hamba bak kee, peue jilakee kubri jeunoe
Peuruman Tuhan hana khali, hadih nabi sajan meutaloe
Man talaba syai’an jadda wajada,, makna ji teuma tapeuharetoe
Meung na jituntut sunggoeh ate, meuhat geubri beksyok  geutanjoe

Haba lon nyoe sang aziumat, le that mupeu’at soe tem pakoe
Amabakadu dudoe nibaknjan, njoe kurangan phon kumula
Kurangan keu ureung lakoe, bungka di nanggroe  tuha muda
Tinggai  nanggroe deungon Ma wang,  jak lam utan dum cut raya

Tuhan  peujeuet nanggroe rantoe, sinankeu laloe manusia
Aceh Pidie tunong baroh, le that gadoh dalam  rimba
Peuebu sabab nyan jeut meunan, leungo teelan  lon  calitra
Sabab jipateh iblih syaitan, siribee ban jipeudoda

Jigusuek di ulee jisaih di glunjueng , teuma di tamong u lam dada
Limong peukara jeut jiyue dilee, leungo sampee lon calitra
Phon-phon jiyeu meu’adoe-angkat, ke dua mumadat he syeedara
Keulhee jiyue tameu Judi, teuma pancuri akhe dudoe

Kupeuet jiyeu tameusabong, that meu untong jalan gata
Limong jiyeu tameurebot, ngon  nyan toek  limong peukara
Taleungo nyoe wahe adoe ,seksa dudoe  lam neraka
Teuduek ohnan saboh pangkat, jeunoe lon sambat laen haba

Nanggroe ranto na tatuban, keusukaran dum peukara
Watee saket aloh-alah, apoh-apah hanteu kira
Tabalek wie tabalek uneun, sapeue pih tan na tarasa
Lon boh jeunoe saboh ca- e, na tatukre he syeedara

Boh pisang mas masak di lubang
Makanan cicem si barau-barau
Meutuah tuboh meuteumei riwang
Jakalee malang mate di rantau

Beuneung raja di dalam paya
Limpah cahaya langet bumoe
Ku eh han teungeut kubleut han jaga
Pajan masa kuteumei woe

Adak na sayeub kuteureubang, yeum beureujang troh u naggroe
Tinggai sidroe baranggajan, rakanpi han jitem peutoe
Apuipi  tan  jujeepih han, kutika yan dawok tamoe
Adak na pade dalam keupok ,hana soe tumbok pakri jinoe

Takeumeung yue gob hana sidroe, toh pakri proe tapeulagee
Yohnyan teuingat nyan keu Ma wang, teuingat yohnyan keu istri droe
Adak  han kujak masa dilee, na soe peulagee  jan   mumeunoe

Amabakdu bacut lon seubut, bek that lupot ureueng binoe
Na taleungo putroe mutual, hankeu leupah bungka judo droe
Allah Allah Nyak  sambinoe, keu lakoe bek paleng muka
Adak na  taeu dalam uteuen, taseumpom teupeuen taro ie mata

Adak proe teungoh tapuminyoe, taeh tamoe dalam tika
Nyan dum saket dengom mangat , nanggroe barat he syeedara
Lon peurasa  sit ka dilee, sipu malee lon peuhaba

Adak tan tajak nyan u barat , dalam surat  taeu nyata
Beuthat taweuh keu ureng lakoe, he ureueng binoe tuha muda
Aduen adoe rakan sahbat, beutaingat  cut  ngon raya
Keu  ureueng lakoe beuthat tahiro, ingat he po si umu donya

Beutapikee maseng keudroe, leupaih lakoe dalam rimba
Uroe malam hana teungeut, lam teuingat po keu gata
Lah bak pihak tan peue puwoe, ate teugoe-goe nyan keu gata
Masa tajak  jok saboh kruboih, ngon peunajoh linto bungka

Untong-untong ngon tajak intat, bungka u barat gampong gata
Laen nikak nyan pi teuingat , ranup lipat ban sikada
Padum teelan ngon bu kulah, masa meulangkah u kuala
Tajak Polem beuseulamat, beutaingat Poma ka tuha

Mata  ka seupot geulinyoeng ka tuloe, beurijang tawoe tajak tanom Ma
Untong di nanggroe sapeue pakat,  oh troih u barat laen kira
Meunan jikheun yoh dinannggroe ,oh troih u ranto pungo gila
Meukeude pi tan lampoih pi han, pat na glanggang jijak mita

Meunan-meunan gadoh nanggroe,pike adoe tuha muda
Jilting aneuk deungon nang eumbah, masa jikeubah han jikira
Ladom galak bak Meukeude, ladom po Leube pula lada
Bitpi galak bak meukeude, le nyang leube pajoh riba

Meukat apiun ngon gala ran, laba teelan Baraga na
Gala lam jaroe laba jilakee, nyankeu sampee jeuet keuriba
Apiun jiplah ngon timangan, nyanpi tuwan deesya raya
Nyang meukeude le nyang hareuem, sisat bandum sagai donya

Meukat apiun ngon galaran,keu lhee teelan reuyeue meulaba
Meunan nyang le nanggroe ranto, meuseuki he po malemji na
‘Ohtroih u ranto tan Seumayang tuwo keu Tuhan dum teurata
Masa disagree jiseumayang, jeunoe jibuang han jikira

Hana hiro keu ibadat, bandum sisat leube nyang na
Nyang that leubeh tahareukat, wahe sahbat LAMPOIH LADA
Adak na reuyeue bek tasambat, beuteutakot nyankeu deesya
Laen nibak nyan po damage siwa adoe tanoh paya

Lompi soe bloe LADA lam bak, hareuem mutual teungku raja
Adak tabloe teungoh meubungong, han peue tanyong nyanpi riba
Dilon Teungku kupeuingat, lonpi sisat leubeh bak gata
Dumna nanggroe le nyang meunan, bukon teelan lon peurbula

Malem-malem nyang meukeude, glanggang rame jibri beulanja
Jibri pangkaikeu ureueng meutajoe, bukon adoe pungo gila
Meuseuki malem jeuet beuet ‘Arab, rugoe kitab Seumayang hana
Jareung-jareung na seumayang, buleung limong he syeedara

Tabri manok keu ureung meutajoe, bukon rugoe amai gata
Tajok peudeung keu ureung meureubot, wajeb meuhat  deesya gata
Taplah apiun ngon timpangan, nyanpi teelan sama juga
Samaih digob digata  sikatoe, bukoen rugoe sia-sia

Meuih ngon pirak ureueng binoe, lam donya nyoe lesoe hawa
Tuntut donya ureueng sisat, bek  he sahbat galak  gata
Peureuman Tuhan hana khali, hadih nabi hana reuda
Addunnya  djifaton watalibuha kilabon, makna muphom ubak gata

Jinoe makna teungku tapham, di lon bingong ate buta
Kaureuna sabab eleumee kureueng, lom ngon budueng  akai hana
Donya  that khieng nibak bangke, ureueng nyan tuntut anjeng nama
Maken tatuntut maken meureulop, maken taturot maken jiba

Padum-padum ureung tuntut, ban meukeusud jih han ek  na
Patah gakI  puntoeng  jaroe, han jitem troe  nafsu hawa
Meunan nyang le iblih tipee, hana jithee tuha muda
Miseue  sidom eu meulisan, nyuem jipeureulan ngon peudana

Pruetpi han troe jihpi mate, meutindeh bangke ban sineuna
Saboh nafsu ban bubayang, meuse tadong teungoh luha
Maken tapeucrok maken diplueng, meuse ie kreung u kuala
Meung han get niet bak hareukat, ingat sahbat sisat gata

Meuseuki  teelan bak meununtut, meung bek po cut deungon riya
Aduen adoe rakan sahbat, beutaingat dum syeedara
Tahareukat bak meusampe, bek keu tabri ceuma leuta
Adak mate bunda ngon ayah, tabri seudeukah jeuet keu pahla

Meunghan meunan wahe adoe, khanuri rugoe sia-sia
Teugoe takalon na khanuri, sang kasahle keu ayahnda
Gatapi mate hareukat payah, page balaih dudoe Nuraka
Meung han get niet bak hareukat, ingat sahbat dudoe teuka

Malingkan Mawot jak tueng nyawong, nyang phon keunong teuka cuba
Hingga datang ‘an kiyamat, cit lam ‘azeueb he syeedara
Di Aceh kon troih u ranto, meunan he po tan meutuka
Meunan teelan bandum nanggroe, troih ‘an jinoe reuyeue meulaba

Meung na areuta get peukayan, wareh rakan that mulia
Meungtan areuta lagi gasien, keuhinaan bak syeedara
Adak istri teungoh baleh, maken leubeh hina keu gala
Bak tuan tha han peue peugah, breueh nyang mirah nyan di mita

Boh seulimeng  ngon eungkot brok, nyan keuh jijok po keu gata
Campli cina eumpeuen beurijuek, nyan dipuduek unab gata
Teuduek haba nyan ohnan dilee, jeunoe sampee laen calitra
Amabakdu dudoe nibak nyan, muwoe kurangan bak  ayah bunda

Masa jijak  roe sit kutham, jipateh han aneuk boh ate
Roe kupaban aneuk ku saboh, kuniet ka gadoh dalam luweuek  gle
Meunan di Poma keu geutanyoe, dawok neumoe meu’eh tanle
Meung ka teu’ngat neuseubut Allah,ie mata limpah sajan ile

Ie mata srot seun-seun siploh, basah tuboh neusampohle
Beutaingat aduen adoe, bekkeu laloe dumteu sare
Aneuk cut raya nyan di Aceh, meung jipreh-preh tokteu hanle
Adak di Nang eumbah han peue peugah, sit lam gundah gata tanle

Nyampang-nyampang neupajoh mangat, yohnyan teuingat ie mata ile
Adak  na gaseh deungon sayang,  dumteu tuan bek laloele
Laen nibak nyan leungo lon peugah, leungo beusah dumteu sare
Nang eumbahteu syik po di nanggroe  meung neupreh woe gata boh ate

Adak na aneuk hanpeue  peugah,  jiteuoh ayah peutang page
Wahe Mapo Ma mutuah , hoka ayah ku eu tanle
Ban po Maji leungo saura meunan, han muban-ban ie mata ile
Wah aneuk po aneuk mutual,  hanale ayah ka leupah u gle

Treb ka leupah aneuk u barat,  hana geu’ngat keu gata boh ate
Rumoh tireh han soe peudab, ayah gata that buta ate
Aleue patah bubong teuhah, paleh ayah aneuk boh ate
Umong diblang hansoe meugoe, bahle deuek-troe gata boh ate

Geudong dinanggroe badan payah,meutamah sosah dalam ate
Ranub pineueng gapu bakong, seunawak pinggang breueh ngon pade
Peonage mangat aneuk di barat, geuduek teutap gata tanle
Meunankeu narit ureueng binoe, keu geutanyoe dumteu sare

Adak na jitakot keu Poteu Allah, hana ubah nibak ate
Tinggaikeu aneuk po di nanggroe, ruya-ruyoe han sapeuele
Nyampang-nyampang gob woe di peukan, at eu teudong-dong weuehkeu ate
Teuma geubri eungkot saboh, puwoe po jroh tapajohle

Maji kalon eungkot bak jaroe, meutaloe-taloe ie mata ile
Jibeudoih duek jiseubut Allah, ie mata limpah bak dadale
Nyandum peukateun  di ureueng binoe, di ureueng lakoe buta ate

Jan Uroe Raya ngon Makmeugang, teuduek-teudong nyan di pante
Duek reunyeun jeh duek reunyeun nyoe, Poma jimoe rusak ate
Teuma geubri sie na bacut, puwoe nyak cut parole
Poma ji eu sie bak jaroe, neu leumpaih droe tumbok ate

Bu oek di ulee meugeureubang, teuoh keu untong beureujang mate
Sabab ji ingat nyang ka leupaih, hana gundah tinggai boh ate
Bukon that some agam mutuah, aneuk jikeubah bahle mate

Adak na Wali nyan di nanggroe, ‘asa uroe baro jiteuka
Jijak euntat sie sigupang , jiboh sajan U sitangke
Hana sapeue laen nibak nyan, ji tijik pisang saboh sisi
Bitpi dumnan bungong jaroe, seuluweuekeu adoe saboh jibri

Masa nyan Poma ate ji bicah, teuingat keu ayah aneuk boh ate
Na meubunyoe gob peuhaba, rab geubungka teungoh ili
Teutapi bungka kon geuriwang,mita glanggang pat na rame
Beurayek meu’ah Teungku Ampon, untong lon sibagoe lagi

Uroe Raya peukayan tan, keutiwasan aneuk boh ate
Di aneuk gob ija peudandang,kasab meujuhang seuluweue meucangge
Di aneuk kee bek ‘an  mirah, meung ija puteh han ek kubri
Sare beungoh lheueh jimanoe, teuma jiwoe bak bundale

‘Oh sajan troih nyan u rumoh, lakee meu’ah deesya page
Jicom di teuot seumah di gakI, teuma ie mata sajan ile
Allah Allah aneuk mutuah, kupaban bah jantong ate

Bukon paleh ureueng di barat,han ji ingat u nanggroele
Baranggasoe mei geuteuoh, isib gadoh beuhanyot bangke
Aneuk prumoh han ji ingat, meu’adoe angkat meuse kaphe
Nyankeu ureueng paleh sabe, seurapa Nabi dudoe page

Meunan teelan bandum nanggroe, di lon adoe  rasa sabe
Habeh haba di ureueng lakoe, ureueng binoe jinoe takira
Sabab leupah lakoe u barat, ureueng binoe that jithok ate
Paleng mukaji keu lakoe, nyang jeuet jiboih droe peuturot ate

AMABAKDU dudoe nibak nyan, taleungo teelan tuha muda
Peuebu sabab leupaih lakoe, wahe teungku droe peudeh pinta
Haba pansie geunab uroe, ureueng lakoe tan beulanja
Ija mirah gleueng di gakI, meung han tabri hina gata

Euncien peurmata po bak jaroe, laen adoe ulee ceumara
Bahle meunan keu jih tap woe, di geutanyoe bahle ta bungka
Tinggaikeu jih po di nanggroe, geunap uroe peuseutet hawa
Adak na eumbah han ji larang, han ek jitham aneuk dara

Ureueng binoe malee hanle, keureuna akhe umu donya
Nyankeu sabab han that jiwoe, keureuna bunyoe keuji nama
Jitem gaseh keu ureueng laen, hana disyen keu Judsonia
Ureueng binoe la’eh iman, keu lakoe han cintaguna

Meung that lut’ok jheuet peukayan, jayeh teelan ji eu rupa
Keureuna sabab luring bak Nang, keu lakoe han jitem kira
Adak gasien hanpeue peugah, maken leubeh lom me Uganda
Na taleungo po nyak sambinoe, taleungokeu nyoe po jroh rupa

Hana paidah rupa sambinoe, meung tan lakoe keupeue guna
Tamse ija plang tatroih lam peutoe, meung tan tangui keupeue guna
Ijapi tuha gatapi  syik, puteh ngon  oek di keupala
Teulhoh ngon gigoe keundo ngon kulet, gata raleb peuseutet hawa

Meung that tasyhen keu ureueng lakoe,  han diboih droe dalam rimba
Uroe malam hana teungeut, lam ji ingat po keu gata
Adak kon seubab teugrak ate, nyeum-nyeum bekcre po ngon gata
Keureuna haba pansie dilee, bahle sampoe u lam rimba

Peue jeuet kudong nyan di gampong, ate ku tutong keureuna gata
Meung tan tapuwoe gleueng u rumoh, reuyoh po jroh sajan po da
Neupura dhot neugeurantang, aneuk jalang kuteumeung tampa
Ngon haba neutulak ngon jaroe neutarek, bahle bek ka ek bak agam ceulaka

Gleueng han jibri euncien han jibloe, bah ji eh sidroe po buya seuba
Tinggai linto dalam juree, panyot reudee minyeuk hana
Han ek  jiduek teuma di eh, oh ka mureh woe gampong Ma
Meunan-meunan geunap uroe, hana padoe ate luka

Umu sithon han peue daleh, hingga jadeh po tabungka
Hana sapeue po tateuoh, guna nyang jroh tan nibak tha
Maken leubeh bak isteri, that  ji banci nyan keu gata
Nyang na gaseh nibak Nang eumbah, cit ta peugah dum peukara

Na tadeungo Ma meutuah, jinoe lon peugah ubak gata
Tabri judo han meusampe, that jibanci nibak nyang ka
Ureueng binoe nyang that banci, damikian lagi bak tuantha
Peue bu sabab Ma Teungku droe, kureueng lon puwoe mit beulanja

Talakee do’a Poma meutuwah, jeunoe leupaih ulon bungka
Ban neu leungo haba meunan, han muban-ban tro ie mat
Keureuna sabab tan peue neubri, Adak han bekcre bijeh mata
Jinoe lon boeh saboh ca-e, brutalize adoe raja

Siwaihhalang teureubang keu Daya
Teureubang di awan mirahpati
Jakalu alang pada beulanja
Beutapa hamba diam di nanggri

Kuceng utan teulari-lari
Kuceng nanggri diam teumpatnya
Jakalu tidak amaih di jari
Diam di nanggri apa gunanya

Ulon boeh nyoe kon beurakah, adoe meutuwah nyo sibeuna
Meung tan areuta dalam jaroe, tadong di nanggroe that seungsara
Habeh haba peuingatan, bungka yohnyan bijeh mata
Masa tatron Poma neumoe,meuteutaloe tro ie mata

Teuduek di reunyeuen neu ek u rumoh, akai gadoh pungo gila
Neujak lam jurong neungieng u blang, neujak pandang aneuk bungka
Hingga jeuoh ka meusilee, moe meuree-ree woe u tangga
Yohnyan neumoe bukon bubarang, Poma sayang keu aneuknda
Tinggai Poma nyan di nanggroe, dawok neumoe tro ie mata
Neu eh han teungeut badan kuroih, bu neu pajoh na ban suda
Nyang dum di Nang eumbah keu geutanyoe, ingat adoe jeueb kutika

Adak na tapeugah bak isteuri, galak that jibri po tabbing
Han jipura meung theun langkah, bahle leupaih si geukoh pha
Pura-pura moe dara beudeubah, jicok ie babah boeh bak mata
Bak tuwan tha han cit jisyen, Adak ureueng laen maken meuganda

Bahle jijak bek that gundah, bah kupasah bijeh mata
Ku peukawen laen aneuk dikah, bahle leupaih po buya seuba
Nyandum jigaseh keu geutanyoe, ureueng binoe muda-muda
Teuma dijih hana gundah, jimumukah dara cilaka

Keu lakoe droe hana disyen, keu ureueng laen that jihawa
Sabab kaya get peukayan, ngon sabab nyan le binasa
Dum-dum gampong barangri nanggroe, ureueng binoe muda-muda
Taleungokeu nyoe he ureueng binoe, meuse bunoe cit digata

Keu ureueng lakoe beuthat tamalee, bek soh juree wahe ureueng muda
Adak rupa jrohpi that rugoe, leupaih lakoe Da ’an tuha
Puteh ngon oek nyan di ulee, hantom meung bee na tarasa
Na taleungo po sambinoe jroh, hankeu gadoh judo gata

Bek that galak keu ija mirah, lakoe leupaih tinggai gata
Bek that galak keu gluing gaki lakoe mate dalam rimba
Bek that keu gluing jaroe, leupaih lakoe adoe raja
Meung that galak tasok euncien, at eh meukuwien sidroe lam tika

Bek that galak keu mangat bee, sohkeu juree judo hana
Tangui bee mangat dilikot lakoe, nyanpi adoepeunyaket raya
Than neu balaihteuma page, meuse bee bangke tuboeh gata
Na taleungo po Da sambinoe, kupeurunoe  nyan di gata

Bek tapateh pansie Nang eumbah,lakoe leupaih meureuraba
Meung ka mate lakoe di ranto, balee he po tinggai gata
Kutika nyan tamoe sangat, troih alamat u rumoh tangga
Teuka wareh asoe gampong, geujak kunjong rumoh gata

Ureueng jamei peunoh rumoh, sit geuteuoh budhoe gata
Get peurangui ngon mubudhoe, ditulak lakoe dalam rimba
Sabab jibeungeh uleh  isteri, meunan lagi bak tuan tha
Laen nibak nyan asoe nanggroe, teuoh budhoe cintaguna

Bahkeu lon boh bangon ba- e, taleungo sye suara Madja
Narit timplak keu dara baro, sabab mate judo dalam rimba
Wahe putroe cut bukon sayang, tamse pisang mate pucok
Keubeue lam weue  mate di blang, bukon sayang teuhah neurok

Sayangku  han ban putore bangsawan, tamse kayee jisom tarok
Ku eu diluwa  ban boh peudeundang, sayang di dalam asoe jibrok  
Sayang mate teungku diranto, han soe hiro di dalam rimba
Kupaban bah he teungku linto, banci darabaro nyan keu gata

Kukira mate dalam juree, na soe mueng ulee judoteu na
Bahkeu dumnan haba ba- e, laen pi le han ek kira
Dudoe nibak nyan geukhannuri, peujamee pakhi lakee du’a
Laen nibak nyan geubi seudeukah, peue nyang mudah ban nyang kada

Geunabkeu umu peuet ploh uroe, han le teugoe-goe dum syeedara
Nyang na ingat po nibak Nang, pijuet badan rok-rok masa
Kadang-kadang troh bak meuthon, han tom neutron di rumoh tangga
Nyampang mate asoe gampong, han tom neutron seb dum nyang ka

Badan pijuet asoe rigeh, lam tika eh beudoh hana
Nyandum di Nangmbah keu geutanyoe, ingat adoe cut ngon raya
Di isteuri dijih tan meusyen,  jipreh troh laen seulangke teuka
Dilakee du ‘a malam uroe, tabri lakoeku nyang kaya

Yoh nyan dingui ngon peukayan,  si uroe saban jingui ija
Mangat ate dara cangklak, ta eu jijak ban keudidi paya
Di unun na incien gilek, digitek incien peumata
Taeukeu oek teusiruek lalat, ija jisawak meukab bak dada

Taeu jilanggang ngon jialeh, geutiek  ji meungkleh sapai ji dua
Taeu baja  itam di bibi, na beureuhi agam nyang na
Taeu keu gaca itam di jaroe, na teuka lakoe guda lawa
Ta eu oek jom nyan di ulee, meunan lagee tuha muda

Pat na agam duek meutamon,  jikeureuleng ngon iku mata
Sara jijak jiboeh beurakah, that bedeu’ah dara jroh rupa
Wahe Ma The wahe kumuen, ban nyang lon kheun sabet beuna
Ta eu jingui ija haloih, bit that utoih aneuk dara

Taeu keu andam nyan dibak dhoe, meuse na lakoe dara jroh rupa
Hana jiingat lakoe tanle, cit ban mate nyan baroesa
Bahkeu dumnan dihaba nyan,jeunoe laen bacut haba
Bak taingat po keu Nangmbah, sabab payah neu peulara

Uroe malam hana neu eh, mataneu peudeh neumeujaga
Ni phon cut kon po la Ma syhen, neu peukawen ’oh jan raya
Na nyum bek cre meung sitapak, nyuum bek jarak sit di mata
Peuet blet keureujaan po bak Nangmbah, leungo lon peugah teungku raja

Peutama phon-phon yohteu budak,  yohnyan galak ayah ngon bunda
Keudua keureujaan geupeusunat, nyanpi sahbat ban nyang kada
Keulhee keureujaan geupeukawen, geubri salen bak ayahnda
Masa nyan meusapat wali ngon karong, yoh masa nyan keureuja raya

Bladeh-blanoe geumeugrum-grak, sabe galak meuseusuka
Peuet blet keureujaan tok hat mate, hanlon boehle seb dum nyangka
Bahkeu dumnan jeunoe lon seubut, laen bacut lon calitra
Kata nyakni ureueng keumarang, leungo teelan lon kheun jeunoe

Kata dalang empunya rawi, taleungo kri lon calitra
AMABAKDU bacut lon seubut, bak awai surat ulon peuwoe
Hana ajayeb diphon surat, jeunoe sahbat ulon gantoe
Di awai phon lheueh Bismillah, subhanallah lafai ngon pujoe

Meudehpi sah meunoepi mei, nyang teur-afdlai dilee pujoe
Keureuna khoteubah bak hikayat ban nyang mangat di ate droe
Dilee ajayeb dudoe subeuhannyoe kurangan ka sublease
Ladom geukarang deungon awe, nyang le geurante deungon taloe

Di lon lon karang dalam ate, kusawe-sawe bak akai droe
Bahkeu lon boeh saboh ca-e, beutapike wahe adoe :
Pisang talon masak di teupin
Pisang abin di bineh sungoe
Jakalee geupeh deungon santan
Na nyum na nyum ek tamakeun troe

Adak na lom ngon meulisan
Han tatujan pruetteu seungkoe
Mameh meulisan leumak santan
Tapeulawan baranggapeue
Meuseuki tapeh taboeh keunan
Jan tamakeuen mangat han soe

Meunankeu tamse ureueng keumarang, meung han reumbang mit soe pakoe
Reumbang lagee keunong sanjak, jeuet keu galak ureueng meurunoe

Lon boeh tamse saboh ca-e, brutalize wahe adoe :
Meung na di ate pade tatob
Tasiwa meuh gob bahle rugoe
Bak burunyong timoh di gunong
Hanyot bungong dalam sungoe
Akai paneuk bicara bingong
Pat han keunong peugetle adoe

Keureuna ulon bicara lipeh, bek takheun ceh keu lon sidroe
Buet mupeu’at tamesare, dudoe page pahla keudroe
Sipeureuti ban ban Hadih Nabi, wahe akhi leungokeu nyoe :
Atdalu ‘alan khairi kafa’ileh, makna silapeh lon kheun jeunoe

Tayue ureueng buet keubajikan, sirasa teelan tapubuet keudroe
Nyoe wasiet lon wahe sahbat, beutaingat bek that laloe
Kalimah nyang puntong haraih nyang singkat, beutapeuget wahe adoe
Beutagaseh ngon tasayang, bek jeuet malang akhe dudoe

Keureuna sangat that lon hajat, wahe sahbat bek tabri rugoe
Harab teewakai lon keu Tuhan, di likot nyan keu Nabi. geutanyoe
Di likot nyan ka gata teelan,meuseuki aduen meuseuki adoe
Bek binasa harap lon nyoe, page jameun tamumat jaroe

Talakee  du ‘a keu lon beuthat, bakTuhan  Hadlarat Po geutanyoe
Talakee keu lon du’ a benkhoeri, dudoe page keu lon sidroe
Sampona amat seulamat iman, keu lon tameuhon geunap uroe
Bahkeu ohnan di haba nyan,jeunoe laen lon peugah proe

Ureueng seumurat hana malem, bek takhem-khem gata barangsoe
Ampon meu ‘ah teungku pangulee, ateueh ulee lon beuot jaore
Lon peugah pat ureung seumurat, na meung tatupat  gampong nanggroe
Nanggroe Pidie Uleebalang Nam, dalam Mukim Panglima  Sagoe

Nama gampong Bambi Mon Tujoh, sinan teumpat malam uroe
Teuntang rumoh di bineh blang, rab he teelan Meunasah Sagoe
Dudoe nibak nyan teukeudi Tuhan, seutet peuteumuen laen nanggroe
Roh lam Mukim Uleebalang Dua Blaih, Raja Pakeh nyang po nanggroe

Nama gampong gaukheun Keulibeuet,  bak tanoh  Ceuet Kapaimeroe(?)
Teuntang rumoh di bineh krueng, Dayah Tutong   Meunasah Sagoe
Ureueng Aceh mubajee jubah,  jingui kupiah meuseunujoe
Nyang han leumah lon peuleumah, jeunoe lon peugah nan beumeusoe

Leube Isa nan untong cut, meunan geuseubut le ureueng nanggroe
Dudoe nibak nyan nama  teumpat, geubalek adat nama  nanggroe
Teuma geuhei Leube Bambi, nan geurasi akhe dudoe
Nyoe wasiet lon wahe teelan, dum sikeulian aduen adoe

Proe hai teupangge keu rahmatollah, nyoe lon keubah keu geunantoe
Assalamu’alaikom wahe teelan, jamak tuwan dum disinoe :
Geunantoe lon mat jaroe sahbat, lon icarat bak surat nyoe
Geunantoe tabri ranub sigapu, du’a he po keu lon sidroe

Keureuna tan ileumee ngon amai, saleh pakri hai akhe dudoe
Hina lon that wahe sahbat, di akhirat ngon donya nyoe
Hina bak donya wahe teelan, meueh pirak tan bak lon sidroe
Meueh pirak tan breueh pade han, meunan untong di lon sidroe

Wali ngon karong di ulon tan, adoe aduen jarak dumsoe
Nang eumbah teutab nibak teumpat, di lon teugeutit jeueb-jeueb nanggroe
Meunan untong neubrile Allah, kupaban bah di lon sidroe
Di gob untonggeu ban tiyong, lam keunurong geunab uroe

Di lon untongku ban payong, lam gob tudong padok uroe
Di gob untong ban timon bruek, keunan bak geuduek reuyeue peutoe
Di lon untong ban timong phan, bak jeueb-jeueb blang sinan sinoe
Lon jak keunoe lon jak keudeh, maken peudeh nibak bunoe

Allah Allah Ya Tuhanku, kulakee bantu bak gata sidroe
Tagaseh sayang bek alang-alang, wahe Tuhan keu lon sidroe
Di donya kon troih jan page, beumeusampe hambateu nyoe
Di Padang Masya bek tabri lambat, beureujang tahisab ulonteu nyoe

Tabri pantaih lon jak bak Titi, bak Hudh Nabi tabri lon peutoe
Tabri teumpat di lon Curuga, karonya gata Poku sidroe
Tabri kupandangteu Ya Rabbi, Dat nyang suci han sibagoe
Suci Dat suci Sifat, Pi-e meuhat meunan cit roe

Tabri meuteumeung ngon Nabi Muhammad, pangulee umat lam donya nyoe
Tabri meuteumeung deungon guree, nyang bri eleumei nyankeu kamoe
Tabri meuteumeung ngon Nang eumbah, ureueng peuleumah langet ngon bumoe
Tabri meuteumeung ngon iseutiri, aneuk lagi nyang di kamoe

Tabri meuteumeung deungon wareh,dum beuhabeh dum sinaroe
Tapeuampon deesya di lon, nibak meukhuluk dum barangsoe
Deesya di lon sikeulian, nyawong badan gaki jaroe

Tamat
Catatan:Tamat saya salin dari huruf Latin ejaan Snouck Hurgronye/Belanda ke Ejaan Yang Disempurnakan ; pada malam Selasa, 25 Ramadhan 1430 H bersamaan
tanggal 14 September 2009 pukul 19.39 WIB beberapa saat setelah buka puasa.

Alhamdulillahi Rabbil‘Alaminnn…!!!. Salinan / transliterasi ini bersumber buku “TWO ACHEHNESE POEMS“ ,yang merupakan kajian dan terjemahan G.W.J. DREWES, terbitan THE HAGUE – MARTINUS NIJHOFF – 1980.

Pada kesempatan ini saya mohon izin  kepada penulis dan penerbit atas upaya transliterasi dan posting ke blog saya ini, semata-mata bagi pelestarian hikayat Aceh. Dapat saya tambahkan, bahwa dewasa ini tradisi “berhikayat“ di Aceh dalam keadaan nyaris punah dalam kehidupan masyarakat Aceh sehari-hari!!!.

Usaha alih aksara/ejaan Hikayat Ranto ini merupakan naskah ke 31 dari kegiatan transliterasi naskah-naskah sastra Aceh lama oleh TA.Sakti sejak tahun 1992, yang menghasilkan hampir 7000 halaman (hikayat, nadham dan tambeh) yang sudah berhuruf Latin, namun hanya secuil saja yang telah dapat diterbitkan.

Semua itu saya lakukan dalam rangka: cari-cari kegiatan atau hana buet mita buet/”upaya pelarian”  dari keadaan diri saya yang cedera akibat tabrakan mobil/colt barang tivi di Yogyakarta, yang ( hari ini) tepat 36 tahun lalu. ( T.A. Sakti )


Teuku Abdullah Sulaiman (T.A Sakti) Merupakan dosen Senior Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Sejarah Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Belia juga pemerhati sejarah Aceh. Sudah aktif menulis sejak saya Kuliah dulu 1989 sampai sekarang. Saya berpisah dengan beliau pada tahun 1994 dan bertemu kembali pada tanggal 14 Agustus 2018 Pada kegiatan Reuni Alumni Sejarah, ingatannya masih sangat sempurna, waktu saya jabat tangan dalam pertemuan tersebut langsung beliau menyebut nama saya. Postingan ini sudah mendapat izin dari (Teuku Abdullah Sakti)

Paya Kareueng, 18 Mai 2020
IFWADI TAIB, S.Pd

Selasa, 12 Mei 2020

"GAM CANTOI"


'Gam Cantoi' Aceh mengharapkanmu untuk kembali.

Sosok karikatur Aceh ‘Gam Cantoi’ hadir tahun 1989 di pojok serambi Indonesia Koran Aceh, disajikan dalam tiga gambar yang memberikan pesan sosial oleh M. Sampe Edwards. Gam Cantoi menjadi buah bibir pada masa itu dan di senangi oleh semua golongan. pingin rasanya ada tokoh ‘gam Cantoi’ hadir kembali di media yang serba komplek sekarang ini yang dapat memberi inspirasi bukan provokasi pada generasi bangsa.

Kurang lengkap rasanya kalau kita belum membaca serambi Indonesia apa lagi belum melihat Gam Cantoi dengan kritik social yang kocak. Gam Cantoi hadir setiap hari menghibur, serta membawa pembaca menafsir tiga gambar tersebut menurut tingkat dan pola pikir kita masing-masing.


Seniman M. Sampe Edwards merupakan seniman hebat. Tak pernah kehilangan kreatifitas dalam setiap pergantian hari. Banyak orang saat membaca harian Serambi Indonesia yang pertama di lihat adalah karakter Gam Cantoi, yang sangat mengasyikkan dan mengundang tawa. Ketika politik tak lagi asyik, maka humorlah yang menyelamatkan kita dari kebosanan.


Tidak ada yang abadi didunia ini termasuk sang seniman M. Sampe Edwards dia meninggal dunia pada hari Sabtu 30 Maret 2013 pukul 19.15 WIB di Rumah Sakit Colombia Asia Medan Sumatera Utara, karena mengidap penyakit tumor pada belakang batang hidung. Dengan meninggalnya Muhammad sampe Edwards maka bersamaan dengan itu "Gam Cantoi" tamat dan terkubur bersama M.Sampe Edwards. Gam Cantoi kehadiranmu masih diharapkan walau zaman sudah berubah dari media cetak ke media elektronik serta media online. Mungkinkah M. Sampe Edwards {Gam Cantoi} yang akan lahir pada abad ini {Abad 21}.

Paya Kaeueng, Bireuen, 12 Mai 2020 {Ifwadi Taib}

Senin, 11 Mei 2020

Dampak COVID 19 Terhadap 'REUNI' Pertemuan Alumni Sejarah Keren

Corona Virus Disease 2019 ( COVID 19) Pertama kali ditemukan di Wuhan China pada akhir Desember tahun 2019. Virus Corona penyebarannya sangat cepat, sehingga menyebabkan negara - negara di Dunia menerapakan kebijakan untuk memberlakukan Lockdowm dalam rangka mencegah COVID 19. Indonesia dalam rangka mencegah penyebaran Virus tersebut diberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), tercatat dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020.

Menu Kuah Beulangong Mayor Kopi Banda Aceh 2019

Selama masa inkubasi (penularan) Pembatasan Sosial Berskala Besar( PSBB) Sekolah dan tempat kerja diliburkan kecuali kantor atau instansi strategis yang memberikan pelayanan; Pertahanan dan keamanan, Ketertiban umum, Kebutuhan Pangan, Bahan bakar minyak dan gas, Pelayanan kesehatan, Perekonomian, Keuangan, Komunikasi, Industri, Ekspor dan Impor, Distribusi logistik dan kebutuhan dasar lainnya.

Menu Kuah Beulangong Mayor Kopi Banda Aceh 2019

'REUNI' pertemuan kembali bekas teman kuliah merupakan Pengumpulan Masa berskala besar (PMBB) melanggar PerMenKes Nomor 9 Tahun 2020. Berdasarkan larangan tersebut kami Komunitas Alumni Sejarah Keren (ASK) merupakan komunitas yang terdampak COVID 19. Pada tahun 2020 tepatnya pada bulan Ramadhan 1441 Hijriah tidak bisa membuat kegiatan Buka Puasa Bersama (BPB).

Menu Kuah Beulangong Mayor Kopi Banda Aceh 2019

Alumni Sejarah Keren (ASK) setiap tahun mengadakan acara buka puasa bersama yang di pusatkan di Banda Aceh, karena Banda aceh merupakan Ibu Kota Provinsi, alumni sejarah juga paling banyak mendiami daerah banda aceh dan sekitarnya. 

Menu Kuah Beulangong Mayor Kopi Banda Aceh 2019

Rasa rindu yang sudah lama tersimpan, terpaksa kami simpan kembali untuk tahun depan yaitu tahun 2021, dampak merambah semua bidang kehidupan dalam masyarakat termasuk salah satu bidang sosial. Semoga cobaan ini cepat berlalu sehingga kita dapat beraktivitas kembali seperti biasa secara sempurna sepertia sebelumnya.

Menu Kuah Beulangong Mayor Kopi Banda Aceh 2019

Kalau ada umur Panjang semua harapan akan terwujud, walaupun bukan pada tahun ini 2020 tahun tapi depan 2021. kejadian bencana Nasional pada tahun ini ada hikmah yang perlu kita petik, kita sebagai hamba hanya bisa merencanakan tapi rencana kita kalau tidak dikabulkan oleh ALLAH hanya tinggal rencana.

Menu Kuah Beulangong Mayor Kopi Banda Aceh 2019

Dengan tidak 'reuni' berkumpul pada tahun ini 2020 bukan berarti kita saling melupakan satu sama lain, belajar dari musibah nasional ini semakin mempererat lagi ikatan emosional sosial kita. Saling mendoakan semoga diantara kita tidak ada yang terinveksi Virus Corona Disease (COVID 19)

Paya Kareueng, Bireuen, 11 Mai 2020
IFWADI, S.Pd

Minggu, 10 Mei 2020

WOT "IE BU" (Memasak Bubur Beras)

WOT  “IE BU”, TRADISI  ACEH DI BULAN PUASA  DARI KABUPATEN PIDIE
 
Oleh: T.A. Sakti

Bagi masyarakat Aceh, hampir semua kegiatan selama bulan Ramadhan berlangsung di Meunasah (Terkecuali di tahun 1441 H ini karena berkembangnya penyakit ta’eun). Kegiatan-kegiatan tersebut ialah: Tadarrus Al Qur’an, Khanduri Tamaddarus, buka puasa bersama, bayar fitrah dan Wot ie bu. Dan kegiatan yang terakhir inilah yang jadi pokok pembahasan penulis kali ini.

Ie bu artinya bubur beras. Wot, maksudnya memasak, Jadi “Wot Ie bu” berarti pekerjaan memasak bubur beras. Orang yang bertanggung jawab untuk terselenggaranya acara ini adalah Teungku Peutuwa atau Teungku Sagoe (Imam Kampung). Semua persiapan, yaitu sejak dari mencari juru masak, menyediakan bahan dan lain-lain diurus Teungku Sagoe.

Bagi juru masak bubur diberi ongkos menurut ukuran setempat. Sumber ongkos itu, bagi desa yang telah maju punya kas tersendiri, misalnya sepetak tanah sawah yang disebut “Umong Ie bu” Tapi bagi gampong di pedalaman, biasanya diambil dari kumpulan fitrah yang belum dibagi bagian senif senifnya. Banyak ongkos 20 bambu (takaran di Aceh). Jumlah itulah yang berlaku sejak zaman dahulu. Tapi dewasa ini telah meningkat dari 24 s/d 32 bambu.

Dewasa ini untuk mencari seorang juru masak Ie bu pun sukar Seminggu sebelum tibanya bulan puasa, dapur Wot Ie bu telah selesai dibuat dari tanah liat. Dan di tempatkan di salah satu sudut Meunasah (di tanah). Perlengkapan dapur yang lain, yaitu aweuek (iros) yang bertangkai panjang, beulangong beusou (kuala besar dari besi), sandeng (rak) dan sebuah sumbu penghancur beras. Sebagai bahan bakar untuk masak Ie bu adalah uram trieng (pangkal bambu kering).

Biasanya pada hari kedua masuk bulan Ramadhan, pekerjaan “Wot Ie bu” dimulai, dan baru berakhir sampai sehari atau dua sebelum habis bulan puasa. Setiap sore sekitar pukul 15.00 Wib, juru masak bubur mulai bekerja. Dia mengambil beberapa bambu beras, kelapa dan bahan lainnya dari rumah Teungku Peutua Meunasah. Jumlah bahan yang diperlukan sesuai dengan jumlah penduduk desa setempat.

KHANDURI IE BU
Sebagaimana telah penulis jelaskan, bahwa sumber utama perlengkapan Ie bu berasal ”dari hasil panen padi dari umong Ie bu yang terdapat disemua Meunasah di Aceh, kecuali sebagian daerah yang tidak mempunyai tradisi itu. Tapi selain itu, masyarakat juga memberikan perlengkapan. Pemberian masyarakat itu disebut “Khanduri Ie bu”.

Jenis-jenis Ie bu,
Jenisnya ada tiga macam, yaitu Ie bu biasa, Ie bu leumak dan Ie bu on kayei. Yang sangat populer dewasa ini adalah ie bu biasa. Ia mudah dimasak dan tidak membutuhkan modal banyak. Cukup hanya dengan beras, santan kelapa, garam dan air bersih.

Jenis kedua adalah ie bu leumak (lemak). Perlu banyak modal baginya. Diantara bahan pokok yaitu: minyak kelapa, kulit manis, bawang merah, serai, jahe, on teumeurui (daun pewangi), boh kaca kace (cengkeh). Dan sudah pasti pula beras, santan kelapa, air bersih merupakan bahan utama.

Cara memasaknya adalah seperti orang syra’h eungkot (tumis ikan). Minyak kelapa dan bawang  merah yang pertama dimasak. Kemudian baru santan dan beras. Sedang bahan-bahan lain baru dimasukkan dalam kuali setelah di bungkus dalam iniem U (upih kelapa).

Adakalanya dimasak seperti orang menumis daging, yaitu dengan menggiling semua bahannya. Jenis ie bu yang hampir sama dengan ie bu leumak adalah ie bu kanji. Bahan tambahannya hanyalah salah satu dari hal berikut ini, yaitu baik daging sapi, daging itik, ayam jago, kepiting ataupun udang.

Ketiga adalah yang di sebut ie bu on kayei (bubur daun kayu). Dewasa ini sudah agak jarang dipraktekkan orang. Ie bu on kayei tidak menggunakan santan kelapa. Bahannya adalah beras, air bersih dan 44 macam daun kayu. Dalam bahasa Aceh disebut “on kayei peut ploh peut”. Sebutan di kabupaten Aceh Besar: IE BU PEUDAH. 

Menurut penuturan orang-orang tua khasiat dari ie bu jenis ini besar sekali, terutama untuk menjaga kesehatan alat pencernaan selama berpuasa. Perut tetap sehat dan tidak gembung (Pruet rheng). Dan orang yarig sering minum ie bu on kayei phisiknya kuat dan bersemangat. Diantara daun kayu yang 44 jenis itu; ialah : on rancong buloh, on tungkat Ali, on sirapat, on sikuat, on me tanoh, capli buta (cabai hutan), kunyit, serai, on teumeurui, on trong, dan lain-Iain.

Bagi pembaca yang ingin mengenal ke 44 jenis daun kayu itu dapat ditanyakan pada orang orang tua di Aceh. Sebulan sebelum tibanya bulan Puasa. Teungku Peutua Meunasah telah bekerja mengumpulkan semua daun kayu tersebut. Setelah kering daun 44 itu ditumbuk menjadi tepung (halus).
Fungsi Ie Bu

Menurut keterangan yang penulis kumpulkan, bahwa istiadat Wot Ie Bu ini telah berlangsung lama di Aceh, terutama di kabupaten Pidie. Fungsinya dua macam. Pertama sebagai minuman  segar mereka yang buka puasa di rumah. Kedua adalah sebagai minuman pelengkap bagi kaum muslimin (orang laki laki) yang pada umumnya buka puasa di Meunasah.

Ie bu yang di bawa pulang kerumah, biasanya diambil oleh anak-anak. Bocah-bocah ini sangat gembira bila bulan puasa tiba, karena dapat mengambil ie bu ke Meuanasah. Di masa lalu, tima situek (timba upih pinang) dan tima nibong (upih nibung) merupakan tempat istimewa buat menampung bubur. Betapa gembiranya seorang cucu, apabila sebuah tima situek atau tima nibong selesai dibuat kakek/neneknya. Sungguh bahagia. Pernahkah  anda mengalaminya???

Buat masa sekarang teko dan timba aluminium/timba kaleng telah menggantikan kedua macam timba tadi. Sejak kuali besar (beulangong beusoe) di naikkan kedapur, anak-anak tidak mau bercerai lagi dengan dapur Ie bu. Mereka sedia menunggu biar sampai maghrib.

Sisa Ie bu yang masih tinggal di Meunasah, selain bahan buka puasa bagi kaum muslimin, juga dapat dijadikan minuman bagi jamaah tarawih dan juga bagi mereka yang tadarrus Al Qur’an di Meunasah sepanjang bulan Ramadhan.

Kalau dulu, selain dalam gelas banyak pula orang minum ie bu dalam tempurung kelapa (bruek U). Tempurung itu adalah bekas kukuran untuk bahan Ie bu. Bagi orang yang bersahaja mereka membersihkan rambut/sabut tempurung. Tapi banyak sekali  orang yang membiarkan tempurung itu sebagai adanya saja. Begitulah sederhananya kehidupan desa. Dewasa ini bruek U sudah digantikan oleh cangkir plastik.

Demikianlah gambaran singkat istiadat WOT IE BU yang dipraktekkan masyarakat Aceh di Pidie sepanjang bulan Puasa. Melihat kepada manfaatnya, penulis berkesimpulan bahwa tradisi ini patut dilanjutkan sepanjang masa.

Sangat membantu untuk mempererat persatuan masyarakat desa!!!

Teuku Abdullah Sakti Dosen Senior Universitas Syiah Kulala, FKIP Jurusan Sejarah merupakan pemerhati sejarah Aceh.

Paya Kareueng, Bireuen, 10 Mai 2020 (Ifwadi,S.Pd)

Kamis, 07 Mei 2020

Menjelang Sembilan Tahun Haul Dr. Hasballah Saad:

Ibundaku : Syahkubandi  

Teuku Abdullah Sakti

Aku bahagia mempunyai seorang Ibu bernama Syahkubandi. Ibuku merupakan salah satu sosok perempuan yang menonjol dikampungku. Beliau buta huruf latin, namun pandai membaca kitab-kitab jawoe berbahasa Melayu, dengan tulisan Arab Gundul, Peureukonan, Masailal lil Muhtadin, dan berbagai hikayat menjadi bacaan beliau sehari hari. Ibuku pandai pula berceritera mendongeng menjelang aku tidur, antara lain, Ceritera Malem Dewa, Ceritera Amat Rhang Manyang dan banyak ceritera dan legenda Aceh lainnya.

Di hari tuanya, beliau justru mulai bisa membaca huruf latin, karena rajin mengikuti Latihan PBH (Pemberantasan Buta Huruf), meskipun beliau tidak pernah menduduki bangku sekolah formal.
Salah seorang putri beliau, Mehran binti Abdul Madjid[1], kakak sulungku dari lain bapak, adalah gadis pertama di kampung ku yang bersekolah SRI (Sekolah Rakyat Islam) dan berjalan kaki hingga empat kilometer pulang pergi ke sekolahnya di Titeue. Tidak  ada anak anak sebaya kakakku yang bersekolah dewasa itu.

Aku, pada usia masih sangat muda, tahun 1951, dibawa Bapakku Syech Saad merantau ke Medan bersama Ibuku. Kami menetap di Gampong Anggrong, lalu pindah ke Jalan Mongonsidi, sebelum Ayah membangun rumah sendiri di Kampung Lalang kawasan Sei Sikambing, Medan Barat.

Akan tetapi, karena kakak-kakakku tinggal di kampung, dan satu- satu meninggal dunia dalam usia muda, maka Ibuku memutuskan kembali ke kampung di Lameue Ujong Gampong, Lameulo (sekarang Kotabakti) Bapak amat sedih, Ibuku juga demikian karena mereka harus berpisah. Sepertinya mereka tak kuasa mengendalikan keadaan yang cukup pelik itu. Bapakku harus bekerja untuk mengatur Pengungsi Aceh akibat perang saudara sejak tahun 1953.

Dengan tangis yang tak dapat ditahan pada suatu malam, Bapak berkata: “Jika kau bawa si Sabalah (Bapak memanggil  namaku dengan sebutan begitu) ke kampung, dia tak akan bakal dapat sekolah yang baik. Paling hebat nanti jika dewasa, dia akan jadi muge keurupuk[2] (pedagang emping melinjo). Namun jika kau biarkan dia tinggal bersamaku di Medan, akan kusekolahkan dia hingga menjadi syagee geulitan apui[3] (kerani  yang bertindak sebagai kepala kondektur kereta api) ”

Ibuku terdiam sejenak, sambil mengusap air mata. Beliau berbisik dalam hatinya: “Akan kutunjukkan bahwa aku akan   mematahkan kata-kata suamiku ini. Hasballah harus menjadi orang kelak, bukan hanya sekedar sebagai syagee geulitan apui, akan tetapi harus melebihi itu. Insya Allah akan kutunjukkan pada suatu hari nanti”

Tekad itu pula yang menyebabkan Ibu tak melarangku melanjutkan studi kuliah ke Banda Aceh, setelah tamat Kursus Pendidikan Guru (KPG) di Kotabakti tahun 1969. Ibu malah menawarkan menjual sepetak sawah untuk biaya kuliahku, meskipun kami akan kehilangan sumber nafkah hidup. Aku menolaknya dengan halus.

Aku mencukupkan gajiku sebagai guru SD yang tak seberapa. Ibu hanya menarik nafas, dan berkata: Pergilah bersekolah, asal tidak melupakan Ibu yang sakit sakitan disini”

Pada kesempatan yang lain, pertengahan tahun 1991 suasana Aceh sangat mencekam.  Pembunuhan sadis terjadi dimana -mana, dan pelakunya tak pernah dapat diidentifikasi oleh polisi. Sebagai mantan aktivis  mahasiswa, dan sering amat kritis dalam berpendapat, saya dikhawatirkan oleh banyak teman dan sahabat. Ibuku juga demikian.

Akhirnya disuatu pagi di kediamanku di Jalan Bayeuen 27, Dusun Sederhana, Kopelma Darussalam, kami duduk berdua di teras rumahku. Sambil menghampiriku agak dekat, Ibu kerkata: ” Jak hai aneuek ta cok langkah. Aneuk miet ngen purumoh ta peujok bak Po teu Allah. Lon bah that ka tuha han peue ta gundahle gata. Do’a Ion sabe sabe keu gata. Jak beu seulamat hai boh hate” lalu Ibuku terisak perlahan. Aku tak dapat menahan air mata pula.

Delapan tahun kemudian, Aku mendapat anugerah Allah, sebagai buah dari doa Ibuku. Berturut turut mulai tahun 1998 Aku menjadi Wakil Sekretaris DPP PAN dan lulus sekolah pada Program Doktor di IKIP Jakarta (sekarang UNJ).  Lalu sejak 1999 itu, Aku menjadi Anggota KPU Nasional pertama dan Wakil Ketua PPI Nasional  yang pertama pula.

 Dalam pemilihan umum parleman 1999, Aku terpilih dari daerah pemilihan Pidie, dan dilantik menjadi anggota DPR-RI pada bulan September 1999. Hanya 29 hari berselang, Aku, atas usul DR. M Amien Rais (Ketua Umum PAN) diangkat Presiden Gus Dur dalam Kabinetnya dengan posisi Menteri Negara Urusan Hak Azasi Manusia (Meneg HAM-RI) yang pertama.

Dalam saat  tafakur dan do’aku seusai pelantikan kabinet, aku mengenang wajah Ibuku yang bahagia, karena janji beliau tunai sudah. Janji dan harapan beliau, menantang statement Bapakku dulu, telah tercapai melebihi syagee geulitan apui, dan bukan muge keurupuk!

Namun sayangnya Ibuku berpulang setahun sebelum semua itu terjadi pada diriku. Beliau tak sabar menanti, dan tak sanggup menawar usia, karena penyakit tuanya. Beliau berpulang dalam usia 83 tahun, di Lameue, kampung halaman dan kelahiranku.

 Seminggu sebelum berpulang, aku sempat memandikan, memijat sekujur tubuh dan membiarkan beliau bermanja sangat denganku hingga Aku tidur sekasur dengannya. Tubuhnya sudah sangat renta  dalam usia tua.

Meskipun tak dapat menyaksikan detik detik terakhirnya, aku sempat menyembahyangkan jenazahnnya, dan menguburkan jenazah beliau di pemakaman umum di desa kelahiranku itu.

Kami hidup bersama penuh suka duka. Namun tekad beliau menantang ucapan Bapakku di Medan dulu, pada saat mereka berpisah, telah memberi dorongan dan semangat luar biasa dalam batin seorang perempuan tua bernama Syahkubandi. Dipendamnya rasa itu bertahun tahun dalam hatinya, dan do’anya selalu menyertai langkahku apabila aku pamit pergi kembali ke Jakarta setiap selesai kunjunganku kepada beliau di kampung.

Itulah sekilas kisah Ibuku, dan pertalian kasih abadi kami, yang menghantarku menjadi Dr Hasballah Saad hari ini. Do’a seorang perempuan yang amat tulus, telah menghantarku kepada apa yang kualami dihari hari dalam hidupku sekarang ini.

Allahummaghfir laha warhamha ya Allah Yang Maha Rahman dan Maha Pengampun.Terimalah dan ampunilah dosa dan kesalahan Ibuku yang telah lebih dahulu tiada…Amin
Jakarta, 7 Juli 2008

( Catatan: Tulisan di atas merupakan draf awal dari buku otobiografi yang akan disusun Dr.Hasballah Saad. Saya ambil di meja kecil di teras Kantor Aceh Culture Institute ( ACI ), Jln. Hamzah Fansury 14  Banda Aceh, sewaktu menghadiri ‘Pertemuan Budaya’….  Saya minta ketik ulang pada Wartel guna diposting ke blog ‘Bek Tuwo Budaya’, guna mengenang genap setahun meninggalnya Dr.Hasballah M.Saad pada 23 Ramadhan 1432 H. Semoga Allah mencucuri rahmatNya kepada beliau, Aminn!. Bale Tambeh, 22 Ramadhan 1433/11 Agustus 2012, T.A. Sakti.
______________
[1]  Suami pertama Ibuku adalah Ayah Madjid, dan memiliki tiga putri dengan Ibuku, masing masing Mehran, Ummi Kalsum dan Kak Tjut. Ketiganya meninggal di usia remaja. Ayahku Syech Saad. adalah suami kedua Ibuku  dan memiliki seorang putra: Aku, Hasballah Saad.
[2]  Pedagang Emping Melinjo, karena kampungku terkenal dengan produksi kerupuk itu.
[3] Syagee Geulitan Apui, sangat dikagumi di kampung Bapakku, Pangwa, karena dipandang amat berkuasa, bisa mengendalikan dan menghentikan kereta api dimana saja.

Tetangga Bapak di Meunasah Me Pangwa Pak Amat Syagee, adalah salah satu Syagee yang selalu berpakaian Topi Pet Merah, Baju Jas Kancing Cekak Musang warna hitam dengan kancing warna emas, yang selalu siap  dengan pluit di tangan. Dia menjadi idola Bapakku.

Paya Kareueng, Bireuen, 07 Mai 2020 (Ifwadi, S.Pd)

Pendidikan

Pengertian Sejarah Sebagai Ilmu, Sebagai Kisah, Sebagai Peristiwa dan sebagai Seni

Pengertian Sejarah Sebagai Ilmu, Sebagai Kisah, Sebagai Peristiwa dan sebagai Seni 1. Sejarah Sebagai Ilmu Sejarah sebagai ilmu merupakan ...

Tampilkan