IFWADI, S.Pd

Foto saya
Bireuen, Aceh, Indonesia
KETUA MGMP IPS SMP BIREUEN

Selasa, 28 Juli 2020

melacak kehidupan Snouck Hurgronje alias Abdoel Ghaffar

Dr.P.S. van Koningsveld
melacak kehidupan Snouck Hurgronje alias Abdoel Ghaffar


Dr Christiaan Snouck Hurgron¬je terdidik sebagai sarjana Islamologi, namun bagian terpenting riwayat hidup dan karyanya dalam masa itu lebih penting sebagai negarawan jajahan (colonial sta-tesman) yang mengabdi kepentingan politik Belanda pada zamannya.

Hal ini dikemukakan Dr P.S. van Koningsveld dalam wawancaranya kepada Kompas akhir pekan ini. la adalah "seorang sar¬jana ahli Arab (Arabist) lulusan Vrij Universiteit di Amsterdam, negeri Belanda, yang kini sedang menyiapkan suatu biografi lengkap Hurgronje.

Sebagai staf ahli pada Universitas Leiden, dia bertugas di bagian arsip dan dokumen Arab dan Islam. Di situ dia menemukan sejumlah besar dokumen sejarah yang berkaitan dengan Snouck, yang belum pernah digunakan sebagai sumber penulisan dan penelitian sejarah, bahkan ada yang baru belakangan ini saja diketahui adanya.

 Berdasarkan penelitiannya, van Koningsveld memastikan bahwa Snouck secara sadar beralih agama di Jeddah dan berperilaku lahiriah sebagai Muslim di Mekkah maupun Indonesia, untuk tujuan politik belaka.

Snouck Hurgronje lahir di Oosterhout pada 8 Februari 1857 dan meninggal di Leiden pada 26 Juni 1936. la belajar teologi Kristen pada Universitas Leiden. Pada tingkat kandidat, dia mempelajari bahasa Hibrani dan Semit, agar bisa membaca naskah Perjanjian Lama.

Salah satu bahasa utama Semit adalah bahasa Arab. Dan gurunya bahasa Arab adalah seorang Arabist terkemuka saat itu, Prof Dr De Goeje. Pada tahap inilah Snouck tumbuh dan berkembang perhatiannya kepada Islamologi, dan meninggalkan teo¬logi.

Pada 1880, Snouck mengakhiri pendidikannya dengan mempertahankan disertasi doktornya Het Mekkaansche Feest" yang membahas tentang ibadah haji. Di situ Snouck menganalisa kapan, mengapa dan bagaimana berhaji dijadikan ibadah Islam.

Dalam hubungan ini, van Ko¬ningsveld mengemukakan bahwa Snouck menilai Al-Qur’an bukan sebagai wahyu Tuhan, tetapi lebih sebagai "karya tertulis" Nabi Mu¬hammad SAW yang mengandung gagasan-gagasannya tentang agama.

"Menurut penilaian saya. disertasi Snouck itu merupakan karya ilmiahnya yang terbaik, karena di situ dia bersikap sebagai ilmuwan," ujar Koningsveld.

Van Koningsveld menambahkan keterangan tentang situasi budaya di negeri Belanda saat itu, yang amat berpengaruh terhadap sikap dan pandangan hidup Snouck kelak. Snouck berasal dari keluarga pendeta Protestan (domine) terkemuka yang konvensional dan semi ortodoks.

Tetapi lingkungan dia belajar (Leiden) adalah liberal untuk zaman itu. Dan pada periode itu, ilmu perbandingan agama perbandingan seja¬rah agama, amat dipengaruhi oleh teori evolusi dari Charles Darwin.

Pengaruh itu melahirkan suatu teori kebudayaan, bahwa budaya Eropa dan agama Kristen merupa¬kan titik puncak proses perkembangan kebudayaan. Karena itu, agama Islam dianggap sebagai suatu bentuk "degenerasi" kebu¬dayaan yang oleh kalangan Kris¬ten di situ dianggap sebagai hukuman Tuhan YME atas segala dosa kaum Nasrani.

Pendeknya, agama dan budaya Eropa lebih unggul dari pada agama dan budaya Timur (Oriental).

Teori atau konsep kebudayaan tersebut di atas amat mempengaruhi pandangan dan sikap Snouck selanjutnya, demikian van Koningsveld. . Pada tahun 1876, semasa Souck masih mahasiswa di Leiden pernah menyatakan "Kita harus membantu bangsa pribumi (maksudnya penduduk negara jajahan) untuk beremansipasi dari Islam".

 Sejak itu, memang Snouck tidak pernah beranjak jauh dari sikap demikian.

Dr Snouck kemudian mengajar pada "Leiden & Delf Akademie", tempat semua calon pejabat pemerintah kolonial Belanda dilatih sebelum berdinas di Hindia Belan¬da. Snouck sendiri belum pernah ke Hindia, namun di situlah dia mulai terlibat dengan urusan kolo¬nial Hindia Belanda di mana Perang Aceh sudah mulai berkobar.

Abdoel Ghaffar
Pada tahun 1880-an, di Belanda terjadi perdebatan tentang adanya banyak orang Indonesia yang menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Isyu berhaji (pilgrimage) menjadi bahan perdebatan sengit di parlemen dan kalangan politik Belanda.

Ada pihak yang kontra dengan alasan politik ("para jemaah Indo¬nesia di Mekkah diindoktrinasi anti Belanda"), ekonomis ("ber¬haji menghamburkan banyak uang karena biayanya mahal, jadi mengancam ekonomi Hindia") dan kesehatan ("jemaah bisa ditulari penyakit yang akan meluas di Hindia kelak"). yang pro, menyatakan berhaji adalah ibadah agama, jadi harus dibiarkan,

Untuk memecahkan soal itu, Konsul Jenderal Belanda di Jeddah datang ke Den Haag, untuk berkonsultasi. "Dengan sendirinya Snouck yang telah membuat disertasi tentang berhaji dan mengajar di akademi, menjadi orang yang mempunyai peranan dalam usaha menyelesaikan isyu ini," ujar van Koningsveld.

Ketika itu, demikian Konings¬veld, Kementerian Luar Negeri Belanda menyatakan soal berhaji bukan urusannya dan menunjuk Kementerian Urusan Jajahan.
 
Menteri Urusan Jajahan, karena suatu sebab, enggan menugaskan Snouck secara resmi sebagai pembantu Konjen Belanda di Jeddah untuk meneliti segala aspek ber¬haji yang diperdebatkan. Apa lagi Snouck tidak bisa berbahasa Melayu untuk bergaul dengan para jemaah dari Hindia.
 
Tetapi akhirnya Snouck mendapat subsidi sebesar 2000 gulden yang amat besar untuk saat itu, melalui suatu subseksi Kementerian Urusan Jajahan, untuk melakukan missi mencari fakta ke Jeddah. "Jadi Snouck pada 1884 berangkat seba¬gai sarjana. Akademi, dengan tugas dan biaya dari Kementerian Urusan Jajahan," kata van Ko-ningsveld.

Ketika tinggal di Jeddah, Snouck berkenalan dengan dua orang Indonesia yang kemudian menjadi amat penting baginya

Yaitu Raden Aboe Bakar Djajadiningrat dan Haji Hasan Moestafa, kedua berasal dari Priangan. Snouck belajar bahasa Melayu dari Aboe Bakar, dan giat bergaul dengan para jamaah dari Hindia untuk mencari keterangan yang diperlukannya.

Semua kegiatan Snouck selama tinggal di Arab Saudi ini dicatat dalam buku harian  yang teliti sampai kini masih tersimpan di arsip perpustakaan Universitas Laiden.

Dari buku harian itu menurut van Koningsveld, banyak ulama di Jeddah menganjurkan Snouck untuk beralih agama menjadi Muslim. Apalagi  Snouck memang sudah banyak pengetahuannya tentang Islam. Dan ini memang  dilakukan oleh Snouck, setelah ia tinggal di rumah Aboe Bakar di Jeddah pada 4 Januari 1885.

Peralihan agama ini pasti, karena enam bulan sesudah itu ada sepucuk surat berbahasa Arab, dari seorang penduduk Mekkah yang ditunjukan kepada Snouck dengan nama Abdoel Ghaffar. Salah satu (isi)  surat itu, menurut penuturan van Koningsveld berbunyi:

 “…  Karena anda telah beralih agama di depan khalayak ramai,maka juga para ulama di Mekkah dengan ini mengukuhkan keabsahan peralihan agama anda ke Islam”.
“Tetapi walaupun Snouck telah melakukan upacara peralihan agama,tidaklah berarti dia itu muslim sejati,” kata van Koningsveld,  “Ini pernyataan saya, dan saya bisa membuktikannya berdasarkan dokumen yang ada !’’.

Kemudian Snouck alias Abdoel Ghaffar, tinggal selama enam bulan di Mekkah. Di situ dia diterima dengan kehormatan oleh ulama tertinggi di Mekkah, yaitu Wali Hejaz. Tahun 1885, Snouck kembali ke negerinya.
                                                                                                                                      Karya Aboe Bakar
         Tiga tahun setelah itu, Snouck menerbitkan dua jilid bukunya “Mekka”. Karya  ini menjadikannya tersohor  ke seluruh dunia, dalam sekejap mata. Jilid pertama tentang sejarah Mekkah, dalam mana dia mengutip sumber sejarah. Jilid kedua, jauh lebih penting dan amat berguna bagi politik kolonial pemerintah Belanda terhadap Hindia.

Jilid kedua berisi uraian tentang pelbagai segi kehidupan masyarakat dan keluarga di Mekkah. Terutama tentang peri kehidupan dan pandangan kaum “el Djawa” yaitu masyarakat Indonesia yang bermukim di Mekkah.

Bahkan Snouck menguraikan kehidupan seks dalam keluarga di situ dan pelbagai segi pribadi kehidupan masyarakat, seperti pendidikan agama, khitanan, upacara perkawinan,penguburan dan lain sebagainya. Banyak kelangan ilmuwan yang mengagumi Snouck yang telah menjalankan metode pengamatan dan penelitian  “modern” yaitu dengan motode partisipasi.

Tetapi van konongsveld berpendapat lain. “Jilid kedua itu terbukti didasarkan pada laporan tertulis berupa surat-surat dari Aboe Bakar di Jeddah kepada Snouck,” ujarnya.  ‘Korespondensi ini berjalan terus setelah Snouck pulang melalui Konjen Belanda.

Bahkan ada bagian-bagian dari buku Snouck itu, yang merupakan terjemahan kata demi kata dari surat Aboe Bakar !”. Memang Aboe Bakar ketika itu dijadikan asisten Konjen Belanda atas rekomendasi Snouck.

Bukan itu saja. Bahkan atas permintaa Snouck, Aboe Bakar membuat sebuah buku catatan  berisi biografi ulama Indoneisa yang berada di Mekkah ketika itu. Buku (cahier) ini berjudul “Risalah Tarjamah Ulama Djawa”, antara lain memuat biografi Al-Nawawi Banten.

Adanya risalah ini diketahui sekarang dan ditemukan oleh van Koningsveld. “Ini dan semua surat-surat tadi sepatutnya  diterbitkan atas nama Aboe Bakar Djajadiningrat karena Snocuk tidak menggunakan seluruhnya.”, katanya.

Selama di Jeddah dah Mekkah, Snouck memang berhasil mendapatkan informasi yang mempunyai nilai politis bagi Belanda. Terutama pandangan terhadap Belanda. Keterangan ini diperoleh dengan mudah, karena masyarakat Indonesia sudah menganggap Snouck alias Abdoel Ghafar sebagai “Akhu-fiddin” ( saudara seagama) mereka.

Ketika di situ pula Snouck membina perkenalan dan hubungan dengan orang-orang  Aceh.

 Tugas ke Aceh 
Awal pemahaman Snocuk tentang Aceh terjadi di Mekkah, terutama setelah ia berkenalan dengan seorang bernama  Habib Abdoerrahman Az-Zahir. Ulama ini adalah bekas penasehat utama Sultan Aceh ketika itu.

Tetapi integritasnya dan peranannya  diragukan, karena  dia juga  menjadi perantara  dalam hubungan antara Sultan Aceh  dengan fihak Belanda. Dia akhirnya dilepas oleh Sultan Aceh, tetapi pemerintah Belanda memberinya pensiun untuk hidup di  Mekkah.

Setelah  “Mekkah”  terbit, Snouck ditawari jabatan maha guru Melayu di Universitas Laiden. Tetapi ini ditolaknya karena merasa belum cukup pengetahuannya, sedang untuk bidang Islamologi masih tetap diduduki gurunya, de Goeje. Snouck memilih mengajar di akademi  dan sebuah pendidikan penginjilan Kristen untuk Hindia.

Namun Snouck lalu membuat langkah yang amat penting dalam hidupnya. Dia menawarkan untuk menuju ke Aceh, di mana Belanda sudah terlibat perang yang luas di situ Apalagi dia masih berkorespondensi dengan beberapa  ulama Aceh yang dikenalnya di Mekkah.

“Snouck mengusulkan, dia akan pergi ke Aceh diam-diam dengan tujuan melakukan penetrasi ke istana Sultan di Kumala, suatu tempat dimana sultan itu menyingkir dari serbuan Belanda,” tutur van Koningsveld,    “Snouck akan mengusahakan suatu persetujuan antara Belanda dan Sultan Aceh.”

Kementrian Urusan Jajahan  setuju,dan Snouck berangkat secara rahasia. Tetapi sesampai di Penang, dia dicegat Konsul Belanda dan diperintah melapor kepada Gebernur Jendral Hindia. Ternyata fihak militer Belanda di Aceh tidak setuju dengan rencana Snouck.

 Perang Aceh
Snouck mendarat di Batavia tahun 1889. Gebernur Jendral C. Pijnacker Hordijk segera menunjuk beberapa orang menjadi asisten Snouck.

Salah seorang pembantu yang pertama adalah Sayyid Osman ibn Jahja ibn Aqil al-Alawi. Dia ulama keturunan Arab Hadramaut,  dan pembantu penasehat pemerintah masalah Islam yang terdahulu
Mr. L.W.C van den Bergh. Selain itu, Snouck juga dibantu kenalan lama di Mekkah, Haji Hasan Moestafa, yang dijadikannya penasehat utama untuk wilayah Jawa Barat.

Melalui perbinCangan di Batavia dan korespondensi dengan  Den Haag, Snouck mendapat jabatan resmi dan tetap sebagai  “Officieel  Adviseur voor Oostersche Talenen Mohammedaans Rechts” (Penasehat Resmi Bahasa Timur dan Hukum Islam).

Bahkan sesudah pulang kembali ke Laiden 1906, dia tetap menjabat kedudukan itu dengan nama “Adviseur voor Inlandsche Zaken” yang berhubungan langsung dengan kabinet Belanda.

Tugas penting pertama Snouck adalah mendalami cara menyelesaikan atau lebih tepat menumpas Perang Aceh. Setelah peninjauan lapangan selama hanya delapan bulan saja, dan dibantu banyak keterangan tertulis jaringan pembantunya.

 Ulee Lheue  
Pada 1903, Snouck ditugaskan ke Aceh untuk menyelesaikan Perang Aceh bagi Belanda, karena politik pemerintah gagal total. Snouck berangkat ke Ulee Lheue yang menjadi kubu meliter Belanda.

Di situ dia mendapat bantuan berharga dari Tengku Nurdin yang juga abang kepala Penghulu Ulee Lheue bernama A’koeb. Kemudian Snouck membuat laporan tebal “Atjeh Verslag” yang menjadi dasar kebijakan politik dan militer Belanda menghadapi persoalan Aceh.

Bagian pertama laporan itu, berupa uraian antropologis Aceh, pengaruh Islam, peranan ulama dan uleebalang. Dalam bagian ini, Snouck mengemukakan bahwa Perang Aceh dikobarkan oleh para ulama, sedang para uleebalang bisa menjadi calon sekutu Belanda karena kepentingannya adalah berniaga.

“Islam harus dinilai  sebagai faktor yang sangat negatif, karena membangkitkan fanatisme anti-Belanda di kalangan rakyat. Setelah para pemuka agama ditumpas, maka Islam akan menjadi tipis (superficial) di Aceh, sehingga para uleebalang bisa dengan mudah menguasai situasi,” demikian pendapat Snouck menurut penuturan van Koningsveld.

Bagian kedua berisi saran tindakan dan strategi militer Snouck menyarankan operasi militer. Snouck menyarankan operasi militer kepedalaman menumpas habis gerilya dan kekuatan ulama, dan setelah itu baru bisa  ada peluang membina hubungan kerja sama dengan uleebalang.

Menurut van Koningsveld, tidak sepenuhnya analisa  Snouck benar. Karena dari daftar pemimpin Gerilya Aceh yang dibuat Snouck ketika itu, banyak terdapat nama uleebalang. Tetapi saran Snouck  sepenuhnya dijalankan pemerintah Batavia.
   
Jaringan dan kepercayaan       
Van Koningsveld menegaskan, bahwa Snouck selalu dikelilingi suatu jaringan pembantu atau pemberi keterangan yang terdiri dari orang Indonesia. “ Cara kerja Snouck di Hindia persis sama dengan ketika dia berada Arab Saudi: mengadakan kontak dan mendapatkan informasi lengkap tertulis.

Kontak terutama dengan ulama terkemuka, dan juga dengan tokoh priyayi.
Para ulama ini membantunya dengan sukarela dan dengan keyakinan Snouck itu Muslim. Kecuali beberapa, seperti Sayyid Osman yang memang digaji 100 gulden sebulan oleh pemerintah.

Van Koningsveld menemukan sejumlah surat dari banyak ulama di Jawa kepada Snouck yang disebutnya antara lain sebagai “al sheikh al-allama maulana abdoel ghaffar moefti ad-dhiyar al djawiya” yang artinya “tuan Abdoel Ghaffar sarjana amat terpelajar pemimpin agama tertinggi di Jawa.”

 Lebih istimewa lagi, Sheikh Maulana Abdoel Ghaffar itu pada bulan Januari 1890, menikah dengan puteri seorang penghulu Ciamis. Dari perwakinan ini lahir empat anak, dua perempuan dan dua lelaki. Yaitu Salmah Emah, Oemar, Aminah dan Ibrahim.

Dan dekat dengan akhir abad ke-19, Abdoel Ghaffar Snouck Hurgronje menikah lagi dengan Sitti Sadiyah – puteri ulama paling terkemuka di Bandung ketika itu yaitu Kalipah Apo! Pernikahan ini melahirkan seorang putra tunggal – R. Joesoef yang sampai sekarang masih hidup dikelilingi  anak cucunya.

Snouck dalam suatu korespondensi dengan Theodor Nuldeke, orientalist terkemuka Jerman yang juga gurunya di sebuah universitas Strassbourgh, mengaku terus terang bahwa perilakunya sebagai muslimin adalah untuk menembus masyarakat Islam dan mendapat keterangan.

 “…  saya melakukan idharu-Islam (artinya berperilaku lahiriyah sebagai Islam Red), karena hanya dengan begitu saya bisa  diterima di kalangan primitif, seperti di Indonesia,” begitu van Koningsveld mengutip surat Snouck kepada Nuldeke,” Dan dengan berbuat begitu, siapa pula yang dirugikan?  Barangkali hanya saya sendiri saja….” 

“’Tentu saja Snouck tidak menceritakan tentang perkawinannya di Ciamis dan Bandung, atau tentang Aboe Bakar Djajadiningrat dan banyak ulama lain yang mempercayai dirinya,” komentar van Koningsveld, “Snouck telah berdusta, bahwa tidak ada yang dirugikannya. Ini salah satu kecaman saya kepadanya.”

 van Koningsveld juga menemukan surat lain Snouck, yang menyatakan bahwa dia juga seorang agnostik  (selalu meragukan adanya Tuhan). Ini ternyata dari surat Snouck kepada teolog Protestan terkenal pada zamannya Herman Barvinck yang rekan sekuliah di Universitas Leiden.

 “… anda memang seorang yang yakin kepada Tuhan. Sedang  (saya)seorang yang skeptic terhadap segala hal…” tulis Snouck.

Negarawan Kolonial   
“Karyanya terpenting Snouck yang ada hubungannya dengan sejarah Indonesia adalah saran-sarannya kepada Pemerintah Belanda mengenai kebijakan tentang Islam di Hindia,” komentar van Koningsveld kepada Kompas, “jangan lupa, Snouck jadi adviseur sampai akhir hayatnya pada 1936, dan sarannya dijalankan pemerintah Belanda sampai tahun 1940-an.

Jadi setengah abad!”. Sebagai ilmuwan, Snouck jarang dikutip dalam perbincangan ilmiah sekarang. Sebagai insan politik ia lebih menonjol.

 “Snouck bagi Belanda adalah perwujudan pembenaran intelektual kehadiran Belanda di Hindia Belanda sebagai bagian dari sistem kolonial. Dan Snouck mempunyai kebijakan politik yang diyakininya baik bagi penduduk Hindia, karena bangsa ini dibantu meningkatkan diri ketaraf Eropa,” kata van Koningsveld.

 “Tugas kita adalah menunjukkan kepada bangsa Hindia, bagaimana Belanda yang negara kecil menjadi bangsa dan negara besar.  Itulah suatu tugas memperadabkan (mission civiiatrice) bangsa,” kata Snouck dalam pidato ilmiah menerima jabatan mahaguru Islamologi Universitas Leiden.

Van Koningsveld menyatakan sebagai ilmuwan Snouck meluntur.”Tetapi politikus, sebagai negarawan kolonial dia tetap serius. Paling dulu dia adalah orang Belanda, dan mengabdi kepentingan Belanda selamanya,”  demikian van Koningsveld menutup wawancaranya.  (rh/bd)

Sumber Harian KOMPAS, Minggu, 16 Januari 1983
Disalin kembali oleh: T.A. Sakti

Paya Kareueng, 28 Juli 2020

Selasa, 21 Juli 2020

Akibat Kurang Informasi dan Sedikit Publkasi

Akibat  Kurang  Informasi   dan  Sedikit  Publikasi:

“Apakah Ada Vespa di Aceh. . . ?”

Oleh:  T.A. Sakti
 
Kunjungan pertama Bapak dr. Tarmizi Taher selaku Menteri Agama R.I ke Aceh telah menggali aspirasi saya menyusun karangan ini. “Karakter ‘panas’ Aceh harus diarahkan”, demikian judul berita Harian Serambi Indonesia, dalam laporannya mengenai ceramah Menteri Agama di Aula IAIN Ar-Raniry, Darussalam, Bnada Aceh.

Harus diakui, bahwa “karakter ‘panas’ Aceh” itu memang ada. Dalam hal ini, saya sangat setuju jika karakter panas ini ditarik ke arah positif. Bila mampu ke hal-hal positif, jelas akan merupakan sumber daya manusia (sdm) yang sangat potensial bagi mengejar kemajuan daerah Aceh khususnya dan Indonesia umumnya.

 Di samping sebagian “karakter Aceh” perlu disempurnakan, mesti pula ada usaha untuk menghapuskan pandangan keliru terhadap Tanah Aceh.

“Masyarakat Aceh, sejak semula bukanlah masyarakat yang cepat beringas, bengis, kejam dan aneh. Tapi, sejak dahulu kala masyarakat Aceh penuh sopan santun, agamis, beradat dan beradab, “(Harian Waspada, 8 Maret 1989 hlm. 3). 

Itu, petikan dari sambutan tertulis Wakil Gubemur Aceh T. Djohan yang dibacakan Pembantu Gubernur Aceh Wilayah I Drs. AR. Ishak pada pembukaan penataran pejabat/tenaga Humas se-Propinsi Aceh di Aula BKKBN Aceh di Banda Aceh, lebih empat tahun lalu.

Pernyataan Wakil Gubernur Aceh (yang masa itu dijabat oleh T Djohan) memang benar. Dan, perkara ini benar-benar dihayati masyarakat Aceh, sejak kapan pun dan dimana saja mereka berada. Bahwa, sebagai orang Aceh, mereka selalu membawa diri berperilaku sebagaimana manusia beradab  lainnya.

 Yaitu sopan, tidak suka ‘mengkhianati’ orang lain, dan pantang pula dikhianati dirinya. Cukup sudah, kurang apa lagi. Memang begitulah kelakuan insan beradab di mana saja di Bumi ini!.

Informasi penjajah
Tapi anda tak usah kaget, bila ternyata bahwa apa yang dihayati masyarakat Aceh tersebut belum populer (kurang diketahui) di luar daerah Aceh. Kenyataan ini, ‘diakui’ pula oleh Wakil Gubernur Aceh pada sambutan tersebut di atas, bahwa sampai sekarang masih banyak yang salah tafsir dan salah membaca tentang Aceh.

 Sampai kini ada yang menganggap masyarakat Aceh masih bengis, beringas, seperti ketika masyarakat Aceh melawan penjajah Belanda dulu. Sehingga kalau ada pejabat yang ditugaskan ke Aceh merasa takut dan ngeri dengan alasan yang tidak mendasar.

 Padahal, menurut T. Djohan, “kebengisan dan kekejaman masyarakat Aceh pada waktu itu hanya ditujukan kepada penjajah Belanda, Jepang dan siapa saja yang ingin menginjak-injak nilai, harkat dan martabat, maupun agama” (Hr. Waspada, 8 Maret 1989), ungkap beliau lebih lanjut.

Menurut pengamatan saya, ada dua sumber atau penyebab mengapa pandangan ‘negatif’ terhadap Aceh masih hidup subur di 1uar daerah Aceh!. 

Pertama, merupakan informasi negatif yang disebarkan penjajah Belanda, baik disengaja atau tidak, yang hingga kini belum terhapuskan.

 Kedua, hingga hari ini( sebelum tsunami  Aceh  tahun 2004 –TA)  sangat sedikit publikasi tentang Aceh yang tersebar ke luar Aceh, terkecuali mengenai Sejarah Perang Belanda di Aceh. Penyebaran sejarah perang itu, karena adanya mata pelajaran sejarah di sekolah-sekolah.

Dalam rangka membina publik opini (pendapat masyarakat), supaya menyokong tindak kekejaman pasukan Belanda selama puluhan tahun berperang melawan rakyat Aceh; pihak agressor ini pasti sengaja menciptakan pandangan-pandangan jelek terhadap orang Aceh. 

Biar pun sebagai bangsa agresor, pihak Belanda (waktu itu) tanpa malu-malu; selalu mengakui dirinya jadi pelopor bangsa beradab. Sementara, rakyat Aceh yang hendak dikalahkannya, terus-menerus digambarkan sebagai kumpulan manusia tidak beradab, gerombolan penyamun alias manusia liar/primitif.

Sesuai niat jahatnya itu, tindakan perang menaklukkan Aceh sengaja diisukan agar supaya orang Aceh bisa menjadi manusia sopan dan beradab nantinya setelah berada di bawah “asuhan” Belanda yang menang perang. 

Oleh karena   rakyat Aceh tak pernah menyerah atau tak terkalahkan “secara resmi”, maka Belanda terus-menerus “memberi cap atau stempel mati” kepada rakyat Aceh sebagai orang-orang tak beradab sepanjang abad. 

Surat-surat kabar dan majalah yang dimiliki Belanda, tentu saja sangat berperan dalam menyebarkan psy war (perang saraf) atau fitnah yang telah sangat merugikan masyarakat Aceh hingga masa kini.

Selain yang sengaja diprogramkan, pasti banyak pula isu menjelekkan Aceh yang tersebar lewat mulut-mulut usil atau tanpa disengaja. Para serdadu Belanda yang baru pulang atau cuti dari tugas bertempur melawan rakyat Aceh; tentu membawa pulang segudang informasi yang seram-seram ke kampung halamannya.

Usaha mencari popularitas diri sangat berperan dalam hal ini. Untuk memperoleh simpati-sekaligus agar dianggap pahlawan atau jagoan oleh para pendengar ‘kisah perang Aceh’, para mantan serdadu Belanda ini pasti beraksi habis-habisan.

 Pertempuran 15 menit, dibilang 8 jam. Gerilyawan Muslimin Aceh syahid 10-dikatakan yang tewas ribuan dan seterusnya!.

Ganas dan kejamnya pertempuran, juga dikisahkan berlebihan. Kisah-kisah yang mengejutkan hati ini, akhirnya tersebar luas dari mulut ke mulut. Sisa-sisa informasi penjajah Belanda itulah yang beredar sampai hari ini di luar daerah Aceh!!!.

Benarkah itu?. Mari kita tunggu jawaban para pakar berbagai disiplin ilmu!!!

Santapan harimau
Di suatu senja bulan Desember 1987, seorang teman dekat saya asal Boyolali, Jawa Tengah, datang ke tempat tinggal penulis di Asrama Mahasiswa Aceh “Merapi Dua” Yogyakarta.

 Sejak masih di halaman sudah saya perhatikan dia. la kelihatan bingung sekaligus linglung!. “Beban batin gerangan apakah yang tengah ditanggungnya?”, bisik saya dalam hati.

Setelah duduk di ruang tamu, sekalian berbasa-basi sekedarnya, teman saya yang bertitel insinyur mesin alumnus Universitas Gadjah Mada itu; barulah segera menjelaskan maksud kedatangannya.

“Bang, saya mau ke Aceh, kerja di Proyek Krueng Aceh Banda Aceh. Tapi, Bang, banyak teman yang melarang saya berangkat ke sana!. “Jangan-jangan kamu nanti jadi santapan harimau. Ingat, nggak kamu berita-berita koran Jakarta tentang keganasan harimau di Aceh sana?. Di Aceh kan banyak harimau!”, kata mereka”.

Saya terheran-heran mendengar keluhannya. “Betul-betul picik pengetahuan Bumi Indonesia kawanku yang insinyur mesin ini!”, keluh saya pula dalam hati sambil renyah tertawa. 

Dia mengira daerah Aceh luasnya hanya sebesar “lapangan bola kaki” yang sanggup dijangkau harimau sekali lompat; kiri kanan-muka belakang.

“Amit-amit jabang bayi!” (aduuuhhhh, minta ampun?), benar-benar wawasannya bagaikan katak di bawah tempurung. 

Kepadanya saya jelaskan, bahwa harimau di daerah Aceh memang ada. Tapi tempat ‘operasinya’ jauh di gunung hitam-rimba raya sana. Saya meyakinkan dia, bahwa di Proyek Krueng Aceh pasti tak ada harimau. Apalagi di Banda Aceh.

 Penulis menjelaskan, bahwa Banda Aceh adalah ibukota Propinsi Daerah Istimewa Aceh yang luasnya lebih-kurang sebesar kota Yogyakarta juga. “Masak ada harimau dalam kota besar. Kecuali kalau ada Kebun Binatang seperti Gembira Loka di Yogyakarta, itupun di pinggiran kota.

 Perihal itu jangan pula kamu risaukan, sebab Kebun Binatang pun belum ada rencana pembangunannya di Banda Aceh, dengan segenap daya-upaya saya meyakinkannya.

Setelah mendengar penjelasan panjang-lebar tentang seluk-beluk daerah Aceh, dia agak merasa lega yang terpancar lewat raut wajah dan sinar matanya.

 Di sela-sela ngomong ngalur-ngidul (bicara utara-selatan) berbagai masalah lain, tiba-tiba dia majukan lagi satu pertanyaan yang tak kalah ‘bobotnya’ dari yang tadi. “Bagaimana bang, cara bergaul dengan orang Aceh?”. Ah, itu gampang!. Ingat nggak kamu pepatah lama: “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung!”. Ke seluruh dunia pun pepatah itu berlaku?”, jelas saya singkat.

Aceh kurang publikasi
Kasus seperti yang penulis alami, sering ditemui para perantau asal Aceh di luar daerah. Bahkan, banyak diantaranya yang membuat kita geli di saat mendengar kisahnya.

 Misalnya ada orang luar Aceh yang bertanya: “Apakah ada Vespa di Aceh?” Kesimpulan yang bisa disingkap dari pertanyaan itu, bahwa orang yang bersangkutan sama sekali belum mengetahui gerak pembangunan yang menggelora di Aceh selama zaman Pelita ini.

Nampaknya, masyarakat luar lebih banyak tahu tentang harimau buas, gajah mengamuk, dan berbagai pengrusakan serta hal-hal negatif lainnya. Mereka, sangat kurang mendengar berita tentang Gelora Pembangunan di Aceh di masa Orde Baru sekarang!. Mengapa hal ini terjadi?. Banyak dugaan yang pantas dikedepankan!.

Bila Anda “pernah berlangganan beberapa surat kabar terbitan Jakarta, tentu akan diketahui kecenderungan dari berbagai mass-media itu. Ada koran yang “Jakarta sentris”, “daerah-daerah sentris”, “milyuner”, dan seterusnya.

 Bagi surat kabar berprofil “daerah-daerah sentries” terpilah pula kepada koran yang hanya mementingkan daerah tertentu saja.

Apakah surat kabar yang bertindak demikian boleh kita salahkan? Atau dituduh tidak berlaku adil? Samasekali  tidak!. Sebab, media massa sekarang lebih banyak bersifat komersil-bisnis, ketimbang yang idealis.

 Akibat demikian, “kantong” mana yang paling banyak menguntungkan, tentulah kesitu lebih sering ditumpahkan ‘ujung pena’ dari media yang bersangkutan. Dalam hal ini, pihak luar tak perlu ribut?. Sebab setiap yang berbau “bisnis” hanya bertujuan mencari “keuntungan?”

Begitulah, akibat faktor-faktor tersebut di atas, maka daerah Aceh jarang dijadikan “bintang berita” dalam  sebagian koran-koran terbitan Jakarta. Malah biasanya hanya dijadikan “ampas berita” saja.

Maksud “bintang berita” adalah sering diprioritaskan sebagai berita utama di halaman depan/utama dan ditulis panjang lebar; malah sampai dikupas dalam “Tajuk Rencana”. 

 Sementara “ampas berita”  yaitu dimuat di halaman bagian dalam dan kadang-kadang pula di halaman depan; tetapi isi beritanya lebih sering dapat menjatuhkan citra daerah Aceh yang diberitakan itu.

 Praktek ini sering kita jumpai pada koran-koran tertentu yang terbit di Jakarta. Apakah hal demikian memang disengaja atau kebetulan; kita pun tak mungkin menjatuhkan “vonis”.

 Masalah sikap dari koran-koran terbitan Medan dan Jakarta ini ikut menjadi bahan diskusi dalam Seminar Nasional Pembangunan Aceh di Jakarta pada tahun 1988. Hampir semua koran membuat laporan masalah itu dengan berita berjudul” “Koran Terbitan Aceh, Entah Kapan?”

Koran-koran jenis yang memuat ampas berita inilah yang lebih sering menjatuhkan citra daerah Aceh lewat berita-beritanya. Para pembaca yang menyimak berita “jelek” dari Aceh, pada akhirnya jadi enggan bahkan takut datang ke Aceh, sebagaimana yang dialami kawan dekat saya tersebut di atas.

Betapa tidak, karena yang ia tahu mengenai Aceh hanya soal “kriminalitas” yang dibesar-besarkan koran, harimau ganas, gajah mengamuk dan sejenisnya.

Suratkabar yang bersimpati pada daerah Aceh, memang ada, tapi hanya beberapa koran saja yang berbuat demikian, cuma segelintir dari puluhan koran terbitan Jakarta.

 Padahal sikap simpati dari media massa terbitan Jakarta, merupakan kunci untuk menerobos ‘terisolasi’!.

Perkara lain, yang menyebabkan masyarakat luar “buta” terhadap situasi “Daerah Aceh Dewasa  Ini”, adalah akibat sedikitnya buku-buku mengenai “Aceh Modern” atau Aceh kontempoter yang beredar di bursa buku tingkat nasional.

 Mencari buku-buku tentang Aceh di toko-toko buku di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Solo, Bandung, dan Surabaya, termasuk usaha untung-untungan, bahkan sia-sia.

 Mungkin hanya buku sejarah Aceh yang dapat kita jumpai di sana. Namun, perlu direnungkan akibat dari bacaan sedemikian. Bukankah hanya sekedar mengetahui sejarah tanpa mengenal “Aceh Kontemporer” termasuk sesuatu yang timpang dan bisa menyesatkan”.

 Penulis yakin, sebagian informasi mengenai sejarah Aceh tempo dulu inilah yang telah melahirkan citra negatif, salah tafsir, dan pandangan keliru terhadap Aceh. Walaupun citra ‘jelek’ ini sudah agak kurang atau mulai normal/cerah dewasa ini, tetapi, yang jelas belumlah terhapuskan sama sekali.

Saran-saran
Pandangan keliru atau remang-remang dari masyarakat luar terhadap Aceh, mestilah dikikis sampai ke akar-akarnya; lebih-lebih informasi keliru yang berasal dari penjajah Belanda. Jalan menerobos menuju citra positif yang dapat penulis sarankan adalah sebagai berikut:

1. Dimohon kesediaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)  tingkat Pusat untuk  mengadakan sekali lagi “Seminar Pembangunan Aceh” di Jakarta.  Terutama guna membahas yang menyangkut “kebekuan informasi”   antara Aceh dengan luar daerah.

 Setelah lima tahun berlalu, patut diulang kaji kembali pelaksanaan dari kesimpulan atau hasil  Seminar Pembangunan Aceh I  tahun 1988 dulu. PWI Pusat patut mengadakan sayembara mengarang tentang Aceh, yang ditujukan untuk menghapuskan citra “Aceh angker” bagi masyarakat luar Aceh. 
Dalam kegiatan demikian, Pemda Aceh  dan pihak perusahaan industri di Aceh sudah selayaknya  diajak kerjasama.

2. Perkumpulan masyarakat Aceh, bahkan perseorangan yang berada di luar Aceh merupakan ujung tombak pertama yang ‘menginformasikan Aceh’ kepada masyarakat di perantauan mereka.

 Kalau dibekali dengan perencanaan matang,  perantau Aceh ini mampu berperan  menjadi juru bicara Aceh yang sukses di rantau.

3. Agar  dapat ditingkatkan informasi positif-Aceh lewat siaran  Stasiun TVRI Pusat – Jakarta. Siaran-siaran Stasiun TVRI Banda Aceh yang menarik supaya disiarkan ulang melalui Stasiun TVRI Pusat (Jakarta).

 Jangkauan dan jam siaran Stasiun TVRI Banda Aceh perlu ditingkatkan.

4. Menghimbau Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, agar menambah porsi mata pelajaran “Mengenal Indonesia” di sekolah-sekolah, sejak dari Sekolah Dasar (SD)  sampai  Perguruan Tinggi. 

Ini bertujuan,  supaya rakyat Indonesia ‘serba tahu’ tentang Tanah Airnya. Sebab, banyak warga negara ini termasuk para sarjana sekarang, teramat minim pengetahuannya mengenai kehidupan serta keberadaan bangsanya sendiri.

5. Supaya generasi muda Aceh diberi  sarana dan fasilitas yang memadai untuk pembinaan bakat tulis-menulis (mengarang) bagi mereka. Sekian!.

*Penulis  pernah kuliah  sampai Tingkat Sarjana Muda I Fakultas Pertanian Unsyiah dengan No. Induk 350/P, adalah alumnus Fakultas Sastra UGM, Yogyakarta serta kuliah sampai tingkat Sarjana Muda Hukum di Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (FHPM)  Unsyiah dengan No. Induk: 2422 dan kini bekerja di  Aceh.

( Sumber: Majalah “SANTUNAN” No. 200, Januari  1994  halaman  20 – 21, dan 52 – 53. Kanwil Depag. Aceh – Propinsi Daerah Istimewa Aceh ).

{ Catatan kemudian:  1)  Sejak tragedi tsunami, 26 Desember 2004 yang menggoncangkan DUNIA, informasi tentang Aceh sudah lebih banyak dan adil.

 Lebih-lebih setelah MetroTV mengabdikan diri menjadi “pawang” yang paling berjasa menginformasikan Aceh sejak peristiwa tsunami Aceh itu.

2). Kepada TVRI Pusat yang sudah berusia ‘setengah abad’ juga agar berperan   lebih layak lagi dalam menayangkan informasi-informasi positif tentang Aceh.

3. Sebagai pencinta TVRI, saya mengucapkan selamat Ulang Tahun ke – 50 kepada TVRI yang jatuh pada tanggal 24 Agustus 2012, semoga selalu jaya di udara!!!.

 Bale Tambeh, 7 Maret 2012, pkl. 7.34 wib., pagi, T.A. Sakti }.

*Tambeh paling mutakhir:
Sekarang, beberapa TV  Swasta-Jakarta, memiliki stasiun cabangnya di Banda Aceh. Berarti, kini berita mengenai  Aceh sudah beragam dan tidak ‘semini’  seperti  tempo hari. 

Alhamdulillah!!!.

Bekas Bale Tambeh, Lasa,  22 Beurapet  1441  atau 22 Zulqa’idah 1441 H 
 bersamaan  14 Juli  2020  M, pukul 06.06 wib.

( T.A. Sakti  )


IFWADI TAIB, Paya Kareueng, Bieuen

Senin, 20 Juli 2020

Manusia Aceh dan Lingkungan Hidup

Manusia Aceh dan Lingkungan Hidup
Oleh:   T.A.  Sakti


Di  kampung   saya “jam alamiah” kini tak pernah lagi berdentang di pagi dan sore hari. Sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu, saat-saat menjelang pagi, penduduk di kampung  selalu dibangunkan oleh merdunya suara jam alamiah itu.

Ciiii ….. kuaciiiiiiiii………… ciiiiiiiiiii….. kuaciiiiiiiiiiiiiii. Itulah bunyi kicauan burung Cicempala paki (Cecak rowo). Malah ketika matahari pagi sudah lebih terang, Cicempala paki juga ikut mengubah tekanan dan irama suaranya.

 Kicauan saat itu sering “diterjemahkan” oleh penduduk desa saya ke dalam bahasa Aceh, “Maaaa kei ka jagaaaaaaa! Ka beudoh hanjeut!” (ibu, aku sudah jaga. Ooo, bangunlah anakku !). Kicauan itu terdengar saling bersahut-sahutan “Maa kei ka jagaaa! Ka beudoh hanjeut!”, biasa dimanfaatkan kaum ibu yang beranak kecil sebagai “alat” untuk membujuk anak mereka yang baru terbangun dalam ayunan agar tidak menangis. 

Itu, baru dua kisah dari fungsi/manfaat suara Cicempala paki di waktu pagi bagi masyarakat desa. Kicauannya berguna dalam “gerak hidup” warga desa setiap hari.
Kini, suasana pagi tak seindah masa dulu, sewaktu cicempala paki masih malang melintang terbang sambil “berkuaciiii” di desa-desa. Keadaan demikian hanya tinggal kenangan. Kawanan Cicempala paki sudah “menghilang” entah kemana. 

Siapakah yang gegabah menghabisi mereka. Alamkah atau insan durjana yang memusnahkan kelestariannya? .

Beruntunglah, sebelum pernyataan kita terjawab, di Aceh dan Banda Aceh kita telah memperoleh dua “duplikat” Cempala paki, yang bisa dijadikan obyek “kenangan” untuk mengenang Cicempala paki yang sudah   punah- binasa di desa-desa. 

Kedua “benda nostalgia” bagi Cicempala paki itu adalah “Cempala kuneng”, nama halikopter hadiah pemerintah pusat kepada Pemda Aceh guna memperlancar kunjungan aparat Pemda ke desa-desa di seluruh Aceh dan “Cempala Taksi”, nama taksi penumpang yang beroperasi di kota Banda Aceh dan sekitarnya.

Manusia dan Alam
Manusia Aceh (orang Aceh) tempo dulu, sangat akrab dengan lingkungan alam di sekitarnya. Mereka menyatu dengan alam, baik alam nyata maupun alam gaib. Kenyataan demikian sangat nampak dalam kehidupan masyarakat desa. Faktor pengikat keakraban dengan alam itu terdorong oleh beberapa sebab, yakni karena rasa takut, mempercayai atau anggapan yang diwarisi dari nenek moyang mereka.

Karena takut ditimpa balasan dari Tuhan, berupa teumeureuka (kualat), maka sangat jarang para supir bis yang berani menggilas kucing yang melintas di jalan. Semampu-mampunya si supir pasti berusaha menghindar. Sebab, mereka percaya, bahwa kucing adalah binatang kesayangan Nabi Muhammad SAW. 

Bahkan menurut cerita rakyat (kisah tanpa sumber yang jelas) yang “popular” di kalangan warga kampung menyebutkan, bahwa Nabi Muhammad sampai-sampai memotong kain beliau agar sang kucing tidak terbangun dari tidurnya di atas kain tersebut. Akibat sikap memuliakan kucing, maka terhindarlah kucing-kucing itu dari kemusnahan. Itulah suatu contoh “anggapan” akan dunia hewan.

Terhadap dunia tumbuh-tumbuhan, orang Aceh juga punya anggapan dan kepercayaan tertentu, sehingga selamatlah habitat itu. Sebatang pohon besar dari jenis tertentu, tumbuh/hidup leluasa tak pernah ditebang orang, karena dipercaya ada “penunggunya”. 

Batang geuleumpang, pohon bubirah, pohon asam, batang agu termasuk di antara pohon-pohon kayu yang dianggap punya penunggu (na ureung po), yang siap menghajar siapa saja yang merusak rumah makhluk gaib itu, lestarilah pohon-pohon besar melingkari desa.

Takut Botak
Para orang dewasa di desa, selalu melarang anak-anak mengambil anak Cicem murong yang sarangnya bergantungan di ujung atap tertinggi (ujong tampong) Rumoh Aceh [rumah asli orang Aceh). 

“sumpah serapah Cicem murong bisa membuat seseorang jadi botak (duroh oek), kata mereka. “Bek ……. hai bek, diseurapa Cicem Murong duroh oek! (hai jangan, nanti disumpah induk Cicem Murong bisa botak), hardik orang tua terhadap anak-anak yang mau memungut anak Cicem Murong.

Begitu juga terhadap Cicem ujeuen (burung layang-layang) yang membuat sarang di rumah-rumah, mesjid dan meunasah.

Memang, bermacam-macam anggapan dan kepercayaan terhadap makhluk hidup di kalangan penduduk desa. Anak-anak tidak berani menyentuh telur cecak, sebab mengakibatkan tangan jadi bergetaran terus-menerus seperti ekor cecak yang putus (aneuk jaroe meutete). 

Penghuni seiisi rumah jarang menghalau sejenis kupu-kupu (bambang jamei) yang terbang masuk ke dalam rumah, lantaran  dianggap membawa laporan awal; bahwa ke rumah itu tak lama lagi akan didatangi tamu. 

Tokek pun ditakuti anak-anak, karena jika diludahinya bisa berakibat kulit orang itu belang-belang (plang-pleng) seperti tokek (lagei pa’e). apalagi ada kepercayaan, rumah yang ditempati tokek mempusakai kaya.

Ramalan Cuaca
Demi lancarnya kegiatan sehari-hari, warga desa perlu memahami fai (ramalan cuaca). Burung Beurijuek Balei, burung Got-got, suara tokek, termasuk sarana ampuh untuk mendapatkan hasil ramalan lebih tepat. 

Kicauan riuh Beurijuek balee di pagi hari, memberi pertanda matahari akan bersinar terang benderang. Sementara suara Got-got yang terus menerus, merupakan isyarat tidak lama lagi bakal turun hujan.

Dan bila si Tokek sering kali bertokek-tokek di waktu malam, itulah tanda bisa menjemur padi besok hari, karena panas terik matahari sampai sore.

Selain menyiarkan prakiraan cuaca, khusus kehidupan burung Got-got bisa disadap tamsil-ibarat. Anak-anak di Aceh menyanyikan: “Got-got panyang iku / geuleungku penyang mata/ nyang tabri han ji pajoh/ nyang tatroh dijak mita” (Got-got panjang ekor/ kukuran kelapa panjang matanya/ yang dikasih tidak terima/ yang disimpanlah yang dicuri). 

Burung Got-got punya sifat serakah, yang tak boleh ditiru manusia budiman.

Kini, di antara ketiga “peramal” cuaca itu, Beurijuek balee dan burung Got-got, sekarang sangat jarang ditemui di desa-desa.

Orang percaya, Beureujuek balee yang dipelihara sejak kecil, bisa dilatih untuk berbicara seperti manusia dan punya kemampuan meramal (keumalon) sebagai burung beo (Tiyong).

Adanya anggapan demikian termasuk sebab yang mempercepat kepunahannya, karena sering diburu orang.

Tuah
Burung Layang-layang membawa “tuah”, jika membuat sarang di kolong rumah. Sarangnya terlengket pada tot Rumoh Aceh. Pemilik rumah, biasanya memang sengaja memasang papan-papan kecil bagi tempat Cicem ujeuen (burung Layang-layang) bikin sarang.

Karena dianggap mempusakai kaya, maka  baik  orang dewasa  maupun  anak-anak hampir-hampir tak pernah mengusik kehidupan burung Layang-layang itu. Lestarilah ia beranak-pianak di situ. 

Di samping membawa “tuah kaya” burung Layang-layang juga dipercayai bisa memberi pertanda hujan. Bila burung itu terbang malang melintang berkawan-kawan di udara, maka bersiap-siaplah mengemas diri, sebab hujan bakal turun sekejap lagi.

Selain burung Layang-layang, Rayap/Anai-anai (Kamue), Lhang, dan Tokek (Pa’e) juga dianggap membawa tuah. 

Ketiga binatang itu “mempusakai kaya”, Rayab (Kamue) yang dianggap membawa tuah, khusus bagi Kamue yang membuat sarangnya  di lantai tanah ruang dapur (geudong), tetapi terhadap Rayap yang bersarang di ruang atas, dianggap membawa bencana.

 (Baca: Harian “Serambi Indonesia”, Kamis, 7 Maret 1991 halaman 4/Opini).

({fwadi Taib) Paya Kareueng Bireuen, 20 Juli 2020

Minggu, 12 Juli 2020

Kereta Api Aceh (KAA)

.Berita – berita Kereta Api Aceh
Komentar pembaca :
Berita-berita KA Aceh
Sudah setahun lebih saya tidak mendapatkan berita” Serambi” tentang Kereta Api (KA) Aceh. Mengumpulkan guntingan koran atau kliping masalah Kereta Api termasuk hobi saya sejak lama. Karena itu, tidak munculnya berita-berita mengenai KA Aceh tersebut; membuat batin saya resah dan bertanya-tanya. Kebingungan barulah terobati, ketika saya membaca lagi berita masalah KA Aceh baru-baru ini (Serambi, Jum’at, 10 Mei 1996 hlm. 1). Berita itu antara lain menjelaskan, bahwa kalau tak ada aral melintang KA Aceh direncanakan akan mulai dibangun tahun depan (1997?).
Sekiranya boleh, saya mohon kesediaan pihak Harian Serambi Indonesia, agar tidak bosan-bosannya memberitakan perihal rencana pembangunan kembali Perkeretaapian Aceh. Memang saya tidak tahu pasti asal-usul tumbuhnya hobi saya mengumpulkan kliping berita/tulisan masalah Kereta Api. Namun yang pasti, saya termasuk salah seorang yang paling senang naik Kereta Api kalau bepergian jauh. Sekitar delapan tahun lalu, jika hendak ke tempat yang jaraknya lebih 10 km; saya senantiasa naik Kereta Api. Menggunakan jasa kendaraan KA memang terasa aman, murah, nyaman dan kurang melelahkan.
Selain saya yang punya hobi mengoleksi guntingan koran masalah Kereta Api, mungkin banyak pula orang lain yang memiliki hobi serupa. Demi dapat saling tukar informasi dengan mereka, dibawah ini saya cantumkan judul-judul berita/tulisan masalah Kereta Api yang saya punya, yaitu:.



I.    BERITA- BERITA  KERETA API  ACEH  JAMEUEN  KEUREU’EUN

1. Kliping paling lama saya simpan berjudul : “Terlupa atau sengaja dilupakan; Kereta Api Aceh yang aman dilalui 9 km lagi” (Atjeh Post, Rabu, 9 Juli 1980).

2. Miswar Sulaiman membuat laporan nasib KA Aceh dengan judul “Sarana Angkutan KA di Aceh Penting menunjang Perkembangan Industri “(Hr. Waspada, Senin, 27 Februari 1984 hlm. V)

3. Seminar Nasoinal Pembangunan Aceh di Jakarta tahun 1988 yang diadakan atas kerja sama PWI – Pemda Aceh turut mendiskusikan rencana pembangunan kembali KA Aceh. Sebuah laporan yang berjudul “Fungsikan kembali Kereta Api di Aceh” (Hr. Waspada, Selasa 25 Oktober 1988 hlm. IV) telah membeberkan pendapat-pendapat dalam seminar taraf nasional itu.

4. Sebuah artikel menarik tentang pasang naik-pasang surutnya perkeretaapian di Indonesia sepanjang dua seri. Kupasan ini ditulis Iman Subarkah, bekas Direktur utama PNKA (1966-1967); staf ahli Mentri Perhubungan (1968-1973); dimuat harian Kompas, 4 Februari 1988 hlm. IV dengan judul “Kereta Api Kita”.

5. Tahun 1989 berita masalah KA mencuat lagi kepermukaan. Sebuah laporan panjang dimuat dalam Hr. Atjeh Post edisi Minggu kedua September 1989 hlm. V dengan judul: “Tut…Tut…Tut…Kapan Keretaku Kembali”. Pada halaman IV koran yang sama dimuat sebuah artikel yang ditulis Muhammad Gade Ismail yang berjudul : Kereta Api Aceh yang Telah Tiada”.

6. “KA Aceh masih dalam penelitian” (Serambi, 19 – 9 – 1992 hlm. 10).

7. “Rp 700 Miliyar Dana Pembangunan Jaringan Kereta Api Daerah Aceh” (Serambi, 8-10-1992 hlm.1).

8. “Dibangun Kembali, Jalan KA Banda Aceh – Besitang” (Kompas, 9-10-1992 hlm. 13).

9. “Bagaimana tentang Kereta Api Aceh”, Tanya seorang pembaca dalam Komentar Pembaca (Serambi, 24-9-1993 hlm.4).

10. “Bicarakan Kereta Api Aceh; Anggota DPR asal Aceh jumpai Dirut Perumka” (Serambi, 4-11-1993 hlm.1).

11. “Anggota DPR-RI Asal Aceh Dukung Mbak Tutut Bangun Kereta Api (Serambi, 10-7-1994 hlm. 8).

12. “Tim DPR RI Asal Aceh Gagal Bertemu Direksi Perumka” (Serambi, 9-11-1993 hlm.11).

13. “Kereta Api Menjauh dari Aceh”, tulis Ismail NA dalam Komentar Pembaca (Serambi tgl 20-7-1994 hlm.4).

14. “Gubernur Syamsuddin Mahmud di Bapenas: Mendesak Pembangunan Kereta Api Aceh” (Serambi, 4-11-1994 hlm.1).

15. “Informasi tentang Aceh sering tak utuh; 35 Wartawan Nasional Keliling Aceh” (Serambi, 11-7-1994 hlm. 2). Berita ini sengaja saya kutip, karena mungkin ada kaitannya dengan ketiadaan hubungan dengan Kereta Api di Aceh.

Akhirnya, Kepada  teman, sahabat  dan peminat Sejarah Kereta Api Aceh   yang sudi membaca  komentar ini, saya ucapkan banyak terima kasih!.

T.A. Sakti
11 Mei 1996 (Banda Aceh)

II.  BERITA-BERITA   KONTEMPORER   KERITA   API   ACEH

1)  Pemerintah Siapkan Rp 2,8 Triliun untuk Pembangunan Jalur Kereta Api di Aceh Jumat, 24 Januari 2020 – 23:34 WIB Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah saat menemui Menhub Budi Karya Sumadi. Foto: Humas Kemenhub jpnn.com, JAKARTA - Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah berharap agar pembangunan jalur kereta api Aceh - Besitang masuk dalam Proyek Stategis Nasional (PSN). Sebab, kendala pembangunan segmen 2 lintas Sungai Liput - Langsa, salah satunya adalah anggaran pembebasan lahan yang belum tersedia. “Kami mengharapkan adanya dukungan berupa surat komitmen Menteri Perhubungan terkait pengusulan PSN tersebut, serta dukungan dari Komisi V DPR RI, khususnya mereka dari Dapil Aceh," kata Nova saat melakukan audiensi dengan Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, di ruang rapat Kemenhub, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (24/1). Nova juga ingin memastikan ketersediaan dana untuk pembebasan lahan Sungai Liput tahun anggaran 2020. Hal itu guna kelancaran proses pembangunan perkeretapian Trans Sumatera Wilayah Aceh. Baca Juga: Menhub: Secara Prinsip Kemenhub Sudah Setuju, Tetapi Harus Tunggu Kementerian Keuangan Pengerjaan proyek pembangunan jalur rel kereta api Trans Sumatera, segmen 1 Besitang, Kabupaten Langkat Sumatera Utara sampai kawasan Sungai Liput Kabupaten Aceh Tamiang, dilaporkan hampir selesai. Pembangunan tahap pertama sepanjang 35 kilometer yang dimulai tahun 2017 itu diperkirakan akan selesai pada tahun ini. Pada pembangunan tahap pertama ini, petugas pengerjaan mengalami kendala pembebasan lahan yang seharusnya merupakan rute lama milik PT Kereta Api Indonesia. Kendala itu dikhawatirkan juga akan terjadi pada pembangunan segmen dua lanjutan jalur menuju ke Kota Langsa. "Semua persyaratan teknis yang dibutuhkan agar pembangunan kereta api ini bisa masuk ke PSN sudah disiapkan dan diantarkan ke Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP)," ujar Nova. Baca Juga:

Artikel ini telah tayang diJPNN.comdengan judul
"Pemerintah Siapkan Rp 2,8 Triliun untuk Pembangunan Jalur Kereta Api di Aceh",
https://www.jpnn.com/news/pemerintah-siapkan-rp-28-triliun-untuk-pembangunan-jalur-kereta-api-di-aceh

2)     Proyek Kereta Api Aceh Memang Perlu Dipercepat
Selasa, 28 Januari 2020 08:36
 lihat foto
For Serambinews.com
Wakil rakyat Aceh di DPR RI, HRD, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah dan Menhub Budi Karya Sumadi di Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Jakarta, Jumat (24/1/2020). Mereka bahas pembangunan kereta api Aceh.
HARIAN Serambi Indonesia edisi Senin kemarin antara lain memberitakan bahwa Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Partai Kedaulatan Bangsa (PKB) dari Aceh, H Ruslan M Daud bersama Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT, Jumat (24/1/2020), menemui Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi di kantornya.
Agenda utama yang dibicarakan dalam pertemuan itu adalah perlunya percepatan pembangunan proyek kereta api Trans- Sumatera Banda Aceh-Besitang, Sumatera Utara, terutama segmen Sungai Liput-Langsa sepanjang 45 kilometer.
Pertemuan yang berlangsung di Gedung Karsa, Jakarta Pusat itu turut dihadiri Kadis Perhubungan Aceh, Junaidi, Sekretaris Direktur Jenderal (Sesditjen) Perkeretaapian, Zulmafendi, dan sejumlah pejabat terkait dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Pada kesempatan itu, Plt Gubernur meminta Menhub untuk memprioritaskan pemenuhan syarat administratif yang dibutuhkan supaya pembangunan kereta api Aceh, terutama segmen Sungai Liput-Langsa, bisa segera dimulai. Nova memohon kepada Menhub agar masalah pembebasan lahan bisa terselesaikan tahun ini, sehingga pembangunan prasarana kereta api dapat segera dimulai.

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Proyek Kereta Api Aceh Memang Perlu Dipercepat, https://aceh.tribunnews.com/2020/01/28/proyek-kereta-api-aceh-memang-perlu-dipercepat.

Editor: bakri

3) Jakarta - Pembangunan jalur kereta api baru dari Sumatera Utara menuju Aceh tengah memasuki masa uji coba, Urbanreaders. Jalur kereta api dari Besitang menuju Langsa ini bahkan dikabarkan akan dioperasikan pada lebaran tahun ini, tepatnya pada akhir bulan Mei dan Juni mendatang.
Yup, seperti yang diketahui, pembangunan jalur kereta api ini sudah dimulai sejak tahun 2017 dan dikerjakan oleh Baltek Perkeretaapian Kelas II Wilayah Sumatera Bagian Utara Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.
Baca Juga: Calon Investor Pembangunan Kereta Gantung di Kawasan Bromo Sudah Ada
Hal tersebut disampaikan oleh Pejabat Pembuat Komitmen Aceh Wilayah I dan Sumut Wilayah II, Abdul Kamal, di Medan, pada 28 Februari 2020. "Pengerjaan sudah rampung dan saat ini sedang diuji coba," ujarnya.
Uji coba ini akan dilakukan oleh tim khusus untuk melihat kelayakan dari jalur baru yang menghubungkan Sumatera Utara dengan Aceh tersebut. Apabila sudah dianggap layak, jalur sepanjang 35 km akan segera dioperasikan, khususnya digunakan untuk masa mudik lebaran yang akan segera berlangsung.
"Diperkirakan jalur itu baru dioperasikan padaLebaran 2020 atau akhir Mei dan Juni,"

Bekas Bale Tambeh,  17 Beurapet 1441 atau 17 Zulqa’idah  1441 H
 bertepatan 9 Juli 2020 M, poh 05.30 wib.

T.A. Sakti

Pendidikan

Pengertian Sejarah Sebagai Ilmu, Sebagai Kisah, Sebagai Peristiwa dan sebagai Seni

Pengertian Sejarah Sebagai Ilmu, Sebagai Kisah, Sebagai Peristiwa dan sebagai Seni 1. Sejarah Sebagai Ilmu Sejarah sebagai ilmu merupakan ...

Tampilkan